BERBAGI
Yunus Wonda bersama masyarakat dalam sebuah kesempatan. (Foto dok WONE)

Dinamika kehidupan bermasyarakat di Bumi Cenderawasih kini, menggugah Wakil Ketua I DPR Papua angkat suara. Sejumlah pesan dan imbauan disampaikannya.

Berikut catatan singkat berupa seruan moral yang diterima redaksi dari DR. Yunus Wonda SH.MH

“DALAM konteks apapun, dalam situasi politik apapun, dalam kebutuhan apapun, sesama orang asli Papua dari Sorong sampai Samarai, tidak boleh ada perbedaan, dengan istilah orang Gunung, orang pantai, orang selatan, orang lembah. Istilah-istilah ini harus kita kubur dan kubur.

Tuhan tidak menciptakan kita sebagai orang Papua untuk dikotomi gunung, pesisir, selatan, lembah, Tuhan ciptakan kita kulit hitam, rambut keriting, untuk menjaga pulau yang besar dengan sumber daya alam yang kaya, untuk kita jaga.

Saudara-saudara non Papua saja yang datang ke Papua dan Papua Barat, kita terima dengan baik. Hari ini mereka hidup berdampingan dengan kita, dengan baik. Malah kita sesama orang asli Papua mulai hidup saling membedakan.

Kepentingan politik apapun, target politik apapun, jangan pernah kita ciptakan perbedaan orang gunung, orang pantai, orang selatan, orang lembah. Apapun target politik jangan pernah kita membuat statetmen-statetmen yang mengarah kepada perpecahan sesama orang asli Papua. Kita orang Papua, kulit hitam, rambut keriting, kita tetap orang Papua sampai Tuhan datang.

Sekali lagi sudara-sudara kita non Papua kita bisa menerima mereka, hidup berdampingan dengan kita, kenapa kita sebagai orang asli Papua, saling membeda-bedakan. Hari ini yang harus kita bicara untuk selamatkan warisan kepada anak cucu kita, kita harus berhenti jual Tanah.

Disana-sini, anak cucu kita mau tinggal dimana jangan kita buat kesalahan demi kesalahan yang akhirnya anak cucu kita tidak punya tanah lagi. Akhirnya, dia harus hidup kos rumah atau kontrak rumah. Seakan menjadi orang pendatang diatas tanahnya sendiri.

Bagi semua tokoh-tokoh adat, kepala- kepala suku, ondoafi, kita harus perketat saat ada warga kita yang mau jual tanah. Jangan sampai anak cucu kita tidak memiliki tanah diatas negerinya sendiri.

Kepada tokoh-tokoh adat, kepala-kepala suku, ondoafi-ondoafi, dari Sorong sampai Samarai jangan pernah kita memberikan mahkota adat, memberikan marga kita, kepada semua tamu-tamu kita yang datang dari luar Papua. Kita perlu ingat, d saat kita memberikan mahkota dengan tarian dan pesta adat, saat itulah semua kekuatan adat, kekuatan alam. Sadar atau tidak sadar, kita telah memberikan kekuatan alam kita kepada orang lain dimana dampaknya yang akan hilang adalah wibawa adat, karisma adat, kekuatan alam, agar kedepan semua itu tidak akan hilang.

Mari kita lihat di samping kanan kiri kita, berapa banyak tanah, berapa bayak luasan tanah yang masih tersisa. Mari kita semua sebagai ras melanesia, yang TUHAN ALLAH taruh kita KULIT HITAM, RAMBUT KERITING, mari kita jaga hutan kita yang tinggal sedikit, pohon sagu kita yang tinggal sedikit, tanah tanah kita yang tinggal sedikit, buah matoa yang tinggal sedikit, dusun kita yang tinggal  sedikit, yang paling utama JUMLAH ORANG ASLI PAPUA YANG TINGGAL SEDIKIT. Mari kita selamatkan semua yang masih tersisa hari ini. (Adm)