BERBAGI

Dihadiri Walikota Jayapura Benhur Tomi Mano

Suasana Peringatan Isra Mi’raj yang dilaksanakan oleh Kerukunan Bugis Sidrap (Kebugis) Kabupaten Jayapura yang turut dihadiri Walikota Jayapura Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, M.M., Anggota DPR Papua Ny. Christina R. I. Luluporo Mano, S.IP., M.AP., Ketua BPD KKSS yang juga Ketua Fraksi BTI DPRD Kabupaten Jayapura H. Wagus Hidayat, S.E., S.H., Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Jayapura Muhammad Amin, Kepala BNN Kabupaten Jayapura Arianto Rifai, dan para undangan lainnya.

SENTANI – Peristiwa Isra Mi’raj memiliki dua makna perjalanan yaitu, perjalanan darat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Kemudian, yang kedua adalah perjalanan Mi’rajnya yakni, dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Berarti terjadi dua perjalanan, baik itu perjalanan horizontal dan juga perjalanan vertikal.

Dalam perjalanan Isra Mi’raj ini, Nabi Muhammad S.A W. menerima perintah sholat yang merupakan perintah tertinggi yang diterima oleh Nabi Muhammad langsung dari Allah S.W.T. Sehingga umat Nabi Muhammad dapat dilihat kualitas ketaatannya kepada ajaran Nabi Muhammad dan perintah Allah itu adalah dari sholatnya, terutama yang fardhu.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Raswin Haris, S.HI, yang merupakan Sekretaris Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Jayapura, yang dilaksanakan di Hotel Usman, Hawaii, Kota Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, kemarin sore.

Peringatan Isra Mi’raj dilaksanakan oleh Kerukunan Bugis Sidrap (Kebugis) Kabupaten Jayapura ini juga dihadiri Walikota Jayapura Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, M.M., Anggota DPR Papua Ny. Christina R. I. Luluporo Mano, S.IP., M.AP., Ketua BPD KKSS yang juga Ketua Fraksi BTI DPRD Kabupaten Jayapura H. Wagus Hidayat, S.E., S.H., Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Jayapura Muhammad Amin, Kepala BNN Kabupaten Jayapura Arianto Rifai, perwakilan TNI-Polri, Ketua IWSS Kabupaten Jayapura Indira Kasim, perwakilan BPD SOPAN Kabupaten Jayapura dan ketua-ketua pilar dari BPD KKSS Kabupaten Jayapura.

“Apa hikmahnya?, manusia itu harus menjaga hubungan horisontal. Yakni, hubungan sesama manusia (garis lurus) dan ini yang harus kita jaga. Kemudian hubungan vertikal, yaitu hubungan kepada Allah S.W.T. Jadi, manusia tidak akan bahagia jika tidak menjaga kedua-duanya. Ketika satu hubungan saja yang kita jaga, maka keharmonisan itu tidak akan timbul,” ujar Ust. Rawin menambahkan.

Dalam perjalanan Isra Mi’raj ini, lanjut Ust. Raswin Haris menuturkan, Nabi Muhammad S.A.W. menerima perintah sholat yang merupakan perintah tertinggi yang diterima oleh Nabi Muhammad langsung dari Allah S.W.T. Sehingga umat Nabi Muhammad dapat dilihat kualitas ketaatan kepada ajaran Nabi Muhammad dan perintah Allah S.W.T. itu adalah dari sholatnya, terutama yang fardhu.

Pada akhir ceramahnya, Ustadz Raswin Haris tidak lupa mangajak warga Sidrap di Kabupaen Jayapura secara khusus dan Papua pada umumnya, untuk menjaga kekompakan dan membantu pemerintah daerah dalam menjaga ketenteraman sesama anak bangsa, untuk mewujudkan Papua sebagai zona damai dan kerukunan antar umat beragama.

Sementara itu, Ketua Kerukunan Bugis Sidrap (Kebugis) Kabupaten Jayapura, Prasoyo Ali mengatakan, bahwa peringatan Isra Mi’raj yang diperingati keluarga besar Kebugis Sidrap Kabupaten Jayapura ini adalah salah satu bentuk syi’ar Islam dengan menceriterakan kembali kisah-kisah inspiratif Nabi Muhammad S.A.W., yang penuh dengan suri tauladan dan salah satunya yaitu Isra dan Mi’raj.

“Sebagaimana kita ketahui kisah-kisah inspiratif tentang Rasulullah itu sudah jarang diceriterakan, padahal Rasulullah merupakan contoh yang tepat untuk menjadi suri tauladan bagi kita semua umat islam. Jadi kisah-kisah ini yang sudah jarang lagi kita dengar di forum-forum pengajian maupun forum-forum dzikir. Sehingga kami mencoba untuk menjadikan kebiasaan (menceriterakan kisah inspiratif Rasulullah) yang baik ini untuk dipertahankan,” ungkap Ketua Kabugis Sidrap Kabupaten Jayapura, Prasoyo Ali usai peringatan Isra Mi’raj.

Peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad 1443 H/2022 M, keluarga besar Kebugis Sidrap Kabupaten Jayapura ini sekaligus dirangkai dengan perayaan peringatan Milad Ke-678 tahun Kabupaten Sidrap, yang diakhiri dengan upacara adat Ma’tompang (pencucian benda-benda pusaka) seperti Kawali, badik, tappi dan tombak itu sebagai bagian dari simbolisasi ritual adat, untuk menghormati para leluhur dan upaya untuk terus menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat masyarakat Bugis di manapun berada. (Irf)