BERBAGI

Proses Perdamaian atau “bayar kepala” akibat Perang Suku di Distrik Ilu dan Distrik Taganombak, kabupaten Puncak Jaya, Papua telah dilakukan pada Senin (13/09/2021). Seharusnya, perdamaian dilakukan sebelum tanggal 10 September. Hanya saja, masyarakat menunda karena tak ingin melakukan perdamaian tanpa kehadiran para putra daerah terbaik mereka, diantaranya J. Yumin Wonda yang tinggal dan berusaha di Kota Jayapura.

Mereka tak bisa hadir tepat waktu karena adanya surat Bupati Puncak Jaya yang melarang maskapai untuk melakukan penerbangan ke Puncak Jaya sejak tanggal 4-10 September 2021.

Berikut perjuangan Yumin Wonda dan Agus Kogoya demi bisa hadir dan membantu prosesi perdamaian atau bayar kepala akibat perang suku di distrik Ilu dan Taganombak.

Yumin Wonda (baju biru) bersama Agus Kogoya, dan unsur muspida kabupaten Puncak Jaya serta masyarakat usai prosesi perdamaian bayar kepala.

 

PUNCAK JAYA – Bakal digelarnya Perdamaian atau bayar kepala di distrik Ilu dan Taganombak membuat sejumlah tokoh intelektual dan politisi yang merupakan anak daerah setempat yang bermukim di Kota Jayapura dan sekitarnya, berupaya untuk hadir dan turut membantu suksesnya acara.

Masyarakat distrik Ilu dan Taganombak pun menanti kedatangan tokoh dan keluarga mereka itu, agar bersama-sama terlibat dan menyaksikan prosesi perdamaian.

Salah satunya yakni Julien Yumin Wonda, anak daerah setempat yang tinggal dan sedang bekerja di Kota Jayapura. Yumin Wonda yang juga adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Puncak Jaya, langsung bergerak cepat mencari transportasi pesawat dari Jayapura, agar bisa sampai di lokasi kampung halamannya itu.

Yumin sebagai tokoh masyarakat dan anak daerah, merasa terpanggil begitu mengetahui bahwa masyarakat dan keluarganya akan mengadakan perdamaian perang suku yang telah terjadi sejak tahun 2018 silam, sebagai akibat dari pergantian 125 orang kepala kampung oleh Bupati Puncak Jaya, Yuni Wonda.

Sayangnya, upaya Yumin Wonda dan sejumlah tokoh anak daerah asli Puncak Jaya lainnya yang ada di Kota Jayapura untuk pulang kampung bersama masyarakat melakukan perdamaian, tidak berjalan dengan mudah. Sebab, pemerintah kabupaten (Pemkab) Puncak Jaya, dalam hal ini Bupati Yuni Wonda mengeluarkan surat kepada seluruh maskapai, agar tidak ada pesawat yang boleh terbang dan mendarat di wilayah Mulia dan Ilu, sejak tanggal 4-10 September 2021.

“Banyak jalan menuju Roma”, “Jika Tuhan Berkehendak, tidak ada yang bisa membatasinya”. Ungkapan diatas seolah menjadi contoh perjuangan Yumin Wonda untuk bisa sampai di kampung halamannya, bertemu keluarga besarnya dalam prosesi perdamaian.

“Adanya Surat edaran dari Bupati Puncak Jaya kepada seluruh maskapai yang melayani, membuat tak ada pesawat yang masuk di distrik Ilu. Sementara, saya dan beberapa tokoh lainnya yang merupakan anak daerah ada di Kota Jayapura. Dan agenda perdamaian digelar sebelum tanggal 10 September lalu. Kami hingga tanggal 9 atau sehari sebelumnya masih ada di Kota Jayapura,” tutur Yumin Wonda kepada media ini, Selasa (21/09/2021).

“Jadi perdamiaan itu sesuai jadwal yakni dari tanggal 5-10 September. Itu sudah dijadwalkan. Lalu saat kami hendak naik, ada edaran dari Bupati Puncak Jaya untuk semua maskapai agar pesawat tak melayani penerbangan sejak tanggal 4-10 September. Tidak boleh ada pesawat ke Ilu dan Mulia. Alasannya ada perdamaian di Ilu jadi jangan sampai bawa Covid dari Jayapura,” terangnya mengulangi.

Tak ingin mengecewakan masyarakat yang sangat menantikan kehadirannya, Yumin Wonda memutuskan terbang menuju KArubaga, kabupaten Tolikara, dan melanjutkan perjalanan dengan jalur darat untuk sampai di distrik Ilu, Puncak Jaya.

Yumin Wonda dan Agus Kogoya (anggota DPR Papua dari Komisi III) yang juga tokoh anak daerah Ilu lainnya, mendarat dengan pesawat yang berbeda di Karubaga pada Jumat (09/09).

Masyarakat yang mendengar akan rencana kehadiran Yumin Wonda, bahkan rela menunda jalannya perdamaian menunggu kedatangannya.

“Kami masuk lewat Tolikara tanggal 9 September dan naik mobil ke Ilu. Masyarakat sampai tunda acara perdamaian menunggu kami. Jadi dri Tolikara dengan jalur darat menuju Ilu, saya disambut dan dijemput masyarakat di distrik Jigonikme dengan menggunakan sepeda motor.

Jadi saya harus sampaikan terimkasih juga pada masyarakat distrik Jigonikme, Taganombak dan Ilu dan sekitarnya, yang telah menjemput saya pakai motor. Mereka jemput saya di Jigonikme dan antar sampai distrik Taganombak. Kalau pak Agus Kogoya juga turun dengan pesawat lain di Karubaga dan juga melanjutkan jalan darat,” jelas Yumin.

Yumin Wonda bersama masyarakat saat prosesi perdamaian

Meski mengaku kecewa dengan keputusan Bupati Puncak Jaya yang melarang adanya pesawat masuk ke Puncak Jaya mulai tanggal 4-10 September, yang berdampak pada banyak anak daerah lainnya seperti Yunus Wonda dan Nesco Wonda, bahkan Wakil Bupati Deinas Geley tak bisa datang, namun Yumin Wonda menyebut dirinya tetap Bahagia bisa berjuang dan sampai dikampung halamannya, bersama masyarakat menggelar upacara perdamaian.

Apalagi, keinginan kuat dan sambutan masyarakat yang begitu meriah kepadanya, sehingga rela menunda acara perdamaian untuk menunggu kehadirannya.

“Puji Tuhan, saya bisa tiba dilokasi dengan selamat. Akhirnya masyarakat yang menunda acara perdamaian karena menunggu kami langsung menyambut. Agenda pembayaran kepala atau perdamaian dilakukan Senin (13/09/2021). Masyarakat menunggu kami dan meninginkan kami harus hadir bersama-sama ikut melakukan perdamaian. Masyarakat mau kami harus hadir supaya penyelesaian harus bersama-sama. Sehingga mereka menunggu sampai lewat dari tanggal 10 baru dilakukan acara perdamaian ini,” papar Yumin.

Yumin Wonda yang kesehariannya dikenal sebagai Pengusaha asli Papua yang selalu bekerja keras itu menjelaskan, untuk proses perdamaian perang suku atau pembayaran kepala yang mereka lakukan saat itu, baru untuk dua distrik, yakni distrik Ilu dan distrik Taganombak. Sementara ada tiga distrik lainnya yakni Waenggi, KAlome dan magubarat atau Wonwi, dijadwalkan akan berlangsung tahun depan.

“Kemarin yang selesai perdamaian baru di distrik Taganombak dan Ilu. Kami prosesi bayar kepala dua orang korban. Distrik Taganombak bayar 1 kepala Rp.3 miliar dan 57 ekor babi. Distrik Ilu membayar Rp.3 Miliar dan 50 ekor babi. Jadi total pembayaran ada Rp.6 miliar dan 107 ekor babi. Jadi untuk perdamaian, Pemkab Puncak Jaya memberikan bantuan setiap distrik dana sejumlah Rp.1 miliar. Saya sendiri bantu Rp.1 miliar dan babi. Masing-masing Rp.500 juta untuk distrik Taganombak dan sisanya untuk distrik Ilu,”urai Yumin Wonda.

Setelah prosesi perdamaian bayar kepala terjadi, keesokan harinya digelar bakar batu khusus untuk laki-laki dan hari berikutnya masak untuk kumpul masyarakat makan bersama,” sambungnya.

Yumin Wonda dalam kesempatan itu memberi apresiasi pada masyarakat yang secara sadar, kompak menyelesaikan masalah perang suku yang terjadi sejak 2018.

“Puji Tuhan semua itu bisa terjadi. Perdamaian di tiga distrik lainnya yakni Wanggi, Kalome dan Wabubarak atau Wonwi dijadwalkan tahun depan. Puji Tuhan juga Kami tiba dengan selamat dan masyarakat senang sekali. Kami yang hadir Selaku anak daerah, intelektual dan politisi, kami juga yang punya masalah sehingga masyarakat mengharapkan dan menantikan kami untuk ikut hadir dalam prosesi perdamaian,” tuturnya.

“Ternyata ada surat larangan  penerbangan dari Bupati Puncak Jaya yang membuat beberapa senior dan intelektual anak daerah lainnya tidak bisa hadir dalam acara perdamaian tersebut. Itu hak Bupati. Namun sangat bertepatan dengan jadwal perdamaian. Kita juga sadar pasti naik pesawat harus lewati protokoler Kesehatan Swab, PCR, dan lainnya. Intinya kami sangat bersyukur ada perdamaian. Saya dan pak Agus Kogoya bisa hadir,” terang Yumin lagi.

Turut hadir dalam prosesi perdamaian masyarakat distrik Ilu dan Taganombak itu yakni Kepala Kesbangpol Puncak Jaya, Kenni Wonda, Asisten II Pemkab Puncak Jaya, Esau Kogoya, Kapolsek dan Danramil distrik Ilu.

Tampak pula sejumlah anggota DPRD Puncak Jaya diantaranya Jimmy Anembere dari partai PKB, Air Gire dari Partai Demokrat, dan Warna Wondanak dari Partai NasDem.

“Saya sebagai anak asli daerah dan juga ketua DPC PArtai Demokrat Puncak Jaya sangat bahagia bisa hadir bersama masyarakat. Kami harap kedepan tiga distrik yang belum perdamain agar selesaikan dengan cara yang sama,” pungkas Yumin Wonda yang mengaku kurang lebih dua Minggu berada disana. (Adm)