BERBAGI
Dirut PDAM Jayapura Entis Sutisna didampingi kepala UPP Jayapura Utara, Damis Darisa

JAYAPURA : Musim Kemarau panjang yang terjadi kini membuat sejumlah sumber mata air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura mengalami kekeringan. Akibatnya, pelayanan kepada pelanggan pun menjadi terganggu dan disesuaikan atau sistem bergilir wilayah dengan sistem distribusi subsidi air.

Kepala PDAM Jayapura, Entis Sutisna di Jayapura, Selasa (08/10/2019) menuturkan, ada 11 titik sumber air di wilayah kota dan kabupaten Jayapura. Dari jumlah itu, hampir sebagian besarnya mengalami kekeringan dan penurunan debit air yang mencapai 70-90 persen.

Menurut Entis, penurunan debit air terutama dikarenankan siklus tahunan kemarau yang diperkirakan sampai bulan Desember. Untuk saat ini, kata dia, dari 12 sumber air PDAM Jayapura yang normalnya bisa menghasilkan 895 liter air per detik, kini sisa sisa 50 persennya saja.

“Terutama itu di daerah Jayapura Utara yang memang mengalami kekeringan atau penurunan debit air luar biasa. Contohnya sumber air atau intech Japut yang biasanya 65 liter perdetik kini jadi 18 liter. Intech Bhayangkara dari 20 liter per detik jadi 2 liter. Tingkat penurunan di Jayapura Utara mencapai 80 persen,” urainya.

Tak hanya di Jayapura Utara, daerah Jayapura Selatan pun demikian. Penurunan debit air hingga 80 persen. Di Intech Borgonci yang melayani sejumlah pelanggan di Kampung Buton, Tanah Hitam hingga Abe Pantai, kini kering tersisa hanya 5 liter per detik.

Sementara sumber air yang relatif besar di Kamwolker pun demikian. Dari 90 liter per detik sisa 30 liter.

“Yang kini menjadi harapan digunakan adalah Intech Kojabu yang debit airnya masih 270 liter per detik. Kita kini distribusi air dengan sistem subsidi dari intech yang debitnya masih besar ke pelanggan. Tentu debit untuk pelangan juga berkurang,” papar Entis Sutisna.

Senada Kepala PDAM Unit Pelayanan Pelanggan (UPP) Jayapura Utara, Damis Darisa, bahwa pihaknya terpaksa memberikan batasan waktu pelayanan kepada pelanggan. Bahkan, lokasi yang seharusnya tak pernah dibatasi pelayanan PDAM semisal Gedung Negara atau rumah dinas Gubernur, Wakil Gubernur, Kapolda, Pangdam dan sejumlah pejabat lainnya pun terkena imbas.

“Kami terpaksa berlakukan demikian. Tentu kita sudah lakukan pendekatan dan sosialisasi pada pelanggan sebelumnya,” kata dia. (Adm)