BERBAGI
Libert/Wone  Nioluen Kotouki
Libert/Wone
Nioluen Kotouki

JAYAPURA-Pascaperlakuan rasis, persekusi dan pelanggaran HAM yang dialami oleh mahasiswa asal Papua di Kota Surabaya beberapa waktu lalu, membuat ratusan mahasiswa Papua yang berada di luar Papua pulang kembali ke Bumi Cendrawasih. Menanggapi hal itu, anggota Komisi 5 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua, Nioluen Kotouki meminta, seluruh kepala daerah baik gubernur maupun bupati dan wali kota harus mencari solusi guna mengatasi persoalan tersebut.

“Hampir seluruh anak-anak yang berada di kota study di luar papua sudah pada pulang ke Tanah Papua. (Sehingga) kami harap Pemprov (Pemerintah Provinsi-red) dan Pemkab (Pemerintah Kabupaten-red), Pemerintah Kota (Pemkot-red) harus mengambil langkah-langkah pendekatan,” kata Nioluen Kotouki saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (10/9) kemarin.

Menurutnya, saat ini aktivitas perkuliahan mahasiswa yang berada di luar Papua sudah aktif. Itu artinya, jika anak-anak ini tidak kembali ke kota studinya maka akan merugikan anak-anak tersebut bahkan pemerintah.

“Saya ada pantau di beberapa penghuni asrama dan rumah siswa hampir semua sudah pulang. Jadi kami harap pemprov, pemkab/pemkot segera menanggapi hal ini,” ujarnya.

Lanjut Kotouki, untuk mahasiswa Papua yang sudah berada di Papua, pemerintah harus menggunakan pendekatan persuasif tanpa pendekatan militer. Sebab mereka datang ini karena trauma atau ditekan dan juga karena isu-isu.

“Pak gubernur segera panggil bupati wali kota lakukan rapat bahas mahasiswa ini. Karena kalau tidak pulang kembali maka ada sanksi dari kampus,” ucapnya.

Ditambahkan, dalam melakukan pendekatan dengan mahasiswa yang pulang kembali ke Papua, sebaiknya pemerintah libatkan tokoh agama, adat dan masyarakat. Sehingga masalah ini tidak berkepanjangan.

” Pimpinan DPRP juga segera buka rapat Banmus,” pungkasnya.(nik)