BERBAGI
YAMANDER/WONE Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr.Suriel Mofu,Spd,M.Ed,TEFL ketika memberikan arahan bagi mahasiswa/i USTJ di Aula USTJ, Rabu (29/5).
YAMANDER/WONE
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr.Suriel Mofu,Spd,M.Ed,TEFL ketika memberikan arahan bagi mahasiswa/i USTJ di Aula USTJ, Rabu (29/5).

Suriel Mofu: Jika Ada Palang, Kami Keluarkan Teguran

JAYAPURA-Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr.Suriel Mofu,SPd,M.Ed,TEFL meminta kepada pihak Yayasan Bhineka Tunggal Ika (BTI) agar memberi jaminan bahwa kondisi kampus harus kondusif dan tidak boleh terjadi pemalangan kampus.

“Saya minta jaminan kampus tidak boleh palang. Untuk permasalahan yang terjadi kami harapkan pihak Yayasan BTI, Rektor dan juga BEM harus ada koordinasi yang baik,” imbaunya di Kampus USTJ, Rabu (29/5).

Dikatakan, sebagai lembaga yang mewadahi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Papua dan Papua Barat, pihaknya sudah mendengar tentang permasalahan yang terjadi di kampus tersebut. Tetapi pihaknya ingin langsung datang untuk mengecek keabsahan dari informasi tersebut.

“Memang harus ada solusi yang diberikan agar permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan,” katanya.

Suriel menyebutkan, jika kondisi kampus tidak kondusif, maka pihaknya bakal mengirim tim internal untuk melakukan investigasi. “Jika ada pemalangan lagi, maka kami akan berikan surat teguran, dan saya mau ingatkan tentu ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, termasuk pencabutan izin. Kami harapkan apa yang sudah disampaikan agar dilaksanakan,” pesannya.

Lulusan terbaik Oxford University ini mengharapkan agar permasalahan yang tengah dihadapi harus diselesaikan dalam forum diskusi yang berujung pada kesepakatan bersama.

“Mari diskusi baik-baik kita orang-orang kampus, akademisi jadi poin-poinnya yang disepakati harus tertulis,” katanya.

Tak hanya itu, Mantan Rektor Universitas Papua (Unipa) Manokwari ini mengingatkan, Kampus USTJ untuk meningkatkan standar mutu pendidikan, karena berkaitan dengan peningkatan akreditasi kampus.

“Memang setelah bertemu dengan pimpinan yayasan dan pihak Kampus USTJ, sudah ada penyampaian ada kesepakatan internal terkait dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Bhineka Tunggal Ika (BTI), Drs. M. Ali Kastela,MMT menjelaskan bahwa pihaknya tetap konsisten untuk menjawab 9 poin tuntutan mahasiswa kecuali SPP yang tidak bisa diturunkan.

“Kami tetap menjawab aspirasi, tetapi kita menjawab secara bertahap, kita berterima kasih atas masukan dari BEM yang mewakili mahasiswa,” jelasnya.

Ali mengharapkan, pertemuan bersama BEM dan mahasiswa USTJ bakal berlanjut lagi pada bulan Juni mendatang.

Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USTJ, Alexander Gobai mengakui bahwa pihaknya tidak puas dengan pertemuan bersama dengan pihak Yayasan BTI, meski begitu pihaknya tetap menghargai pihak Yayasan BTI yang telah hadir dalam pertemuan tersebut.

“Ketua Yayasan memang sepakat dengan beberapa poin, namun tidak dengan SPP, di mana SPP tetap Rp. 3,7 juta. Kami tidak puas dengan jawaban yang diberikan,” tegasnya.

Alexander menambahkan, pada pertemuan berikutnya BEM mengharapkan kesepakatan antara pihak Yayasan BTI, Rektor USTJ dan mahasiswa, bisa dilaksanakan, sehingga tidak berdampak pada aktivitas perkuliahan.

“Kalau memang tidak ada kesepakatan lagi, kami tetap palang kampus, kami sudah komitmen terserah mau ditutup ka tidak ka,” pungkasnya.(yan)