BERBAGI
Di Serui Vidio Kekerasan Pelajar Viral di Medsos WA
Kapolres Yapen AKBP. Penri Erison didampingi Kasat Reskrim IPTU. Handry M. Bawilung saat mendengarkan keterangan dari pihak korban maupun pelaku

SERUI – Di Kota Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, warga digegerkan dengan viralnya Video kekerasan melalui Media Sosial (Medsos) Watshapp (WA)diduga dilakukan dua orang siswi pelajar salah satu sekolah tingkat SMA di Kota Serui.

Kejadian kekerasan tingkat pelajar SMA di Serui ini dilakukan sekitar Januari 2019 lalu, namun baru terungkap, Senin, (6/5) lalu.

Atas beredarnya video kekerasan tersebut langsung ditindak lanjuti Kapolres Kabupaten Kepulauan Yapen, AKBP. Penri Erison dengan memerintahkan Kasat Reskrim IPTU. Handry M. Bawilung beserta sejumlah penyidik melakukan penyelidikan dilapangan.

Tanpa menunggu lama, hasil penyelidikan dilapangan, Senin (6/5) malam hari, anggota menemukan alamat korban kekerasan merupakan siswi SMK YPK Serui, serta alamat dua pelaku kekerasan berinisial EM (17) dan K, merupakan pelajar disalah satu SMA di Kota Serui. Setelah menemukan alamat baik korban maupun pelaku, langsung dilakukan pemanggilan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Setelah menemukan alamat baik korban maupun pelaku, kami melakukan pemanggilan untuk menindaklanjuti atas viralnya video kekerasan tersebut, hal ini agar dapat diketahui alasan apa sampai terjadi kekerasan tersebut,’’ ungkap Kapolres Yapen AKBP. Penri Erison kepada SKH WONE.

Pelaku didampingi ayahnya saat memberikan keteranganya mengatakan bahwa, kalau ia melakukan hal tersebut karena merasa kesal dan tidak terima korban mengeluarkan kata-kata kurang baik baik menggunakan HP dari pacar korban.

“Kalau saya dipukul tidak apa-apa. Tapi kalau saya dimaki, tetap saya marah,” ujarnya.

Kapolres AKBP. Penri Erison lebih lanjut mengungkapkan, hasil penyidikan baik kepada korban maupun pelaku, kejadian ini terjadi sekitar Januari 2019 lalu, dan sudah dilakukan perdamaian secara kekeluargaan dipenjagaan Polres Yapen.

“Sebenarnya antara korban dan pelaku masalah ini sudah selesai. Akan tetapi sangat disayangkan kenapa video baru viral 6 Mei ini, akhinya membuat kita harus ambil langkah kembali permasalahan ini. Makanya kami panggil mereka untuk dimintai keterangan ulang,” jelasnya.

PENYEBAR VIDEO BAKAL DIJERAT UU ITE

Kapolres AKBP. Penri Erison mengatakan, dari hasil keterangan didapatkan, kejadian ini bermula hanya karena asmara (pacar) antara korban dan pelaku dimana pacar korban ternyata disukai oleh pelaku.

“Jika memang masalah ini tidak selesai, maka langkah yang akan kita diambil yaitu melakukan proses hukum kepada pelaku, termasuk kepada orang yang telah menyebarkan video tersebut dengan menjeratnya sesuai UU ITE,” tegas Kapolres.

Disinggung soal adanya usulan dari guru dalam menertibkan para pelajar berkeliaran pada saat jam sekolah, orang nomor satu dijajaran Polres Yapen ini sangat merespon baik dan akan ditindaklanjuti.

“Usulan dari guru untuk kerja sama dengan Polres Yapen guna memberikan pembinaan kepada pelajar, hal itu akan kita bahas setelah pelaksanaan ujian sekolah termasuk akan melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol – PP,” katanya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMK YPK, Serui, Herlina Br. Surbakti juga menghadiri panggilan ini, mengatakan, pihaknya tidak pernah mengetahui kejadian kekerasan menimpah anak muridnya. “Ini baru kita diketahui ketika video berdurasi 57 detik ini beredar luas di Medsos,’’ ungkapnya.

Kata Herlina, pihak sekolah SMK YPK, Serui selalu memberikan arahan kepada para anak didik agar tidak melakukan hal yang kurang baik, bahkan setiap hari Senin, guru-guru dan murid-murid selalu melaksanakan ibadah renungan pagi.

“Begitu juga hari Sabtu, kita melaksanakan ibadah bersama-sama merupakan rakaian hari akhir satu minggu berjalan,” katanya.

Dikatakanya, tentunya apa yang telah diberikan dari pihak sekolah sudah sangat baik, dengan rutin melaksanakan ibadah.

Agar hal serupa tidak terjadi, Herlina Br. Surbakti memberikan masukan kepada pihak kepolisian agar melakukan kerja sama yaitu melakukan swiping bagi anak-anak sekolah yang berkeliaran pada saat jam sekolah.

Adanya rencana penertiban pelajar pada saat jam sekolah, diharapkan orang tua murid bisa menerima dan mendukung, karena hal tersebut semata-mama merupakan kebaikan dari pada anak didik itu sendiri.(her/pel)