BERBAGI
ISTIMEWA  Menteri PPPA, Yohana Susana Yembise ketika menyerahkan bantuan kepada pengungsi yang diterima Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri di salah satu posko pengungsian di GOR Toware, Kabupaten Jayapura, Minggu (31/3).
ISTIMEWA
Menteri PPPA, Yohana Susana Yembise ketika menyerahkan bantuan kepada pengungsi yang diterima Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri di salah satu posko pengungsian di GOR Toware, Kabupaten Jayapura, Minggu (31/3).

SENTANI–Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Prof. Dr. Yohana Susana Yembise,Dip.Apling,MA mengunjungi korban bencana banjir bandang Sentani, tepatnya di posko pengungsian GOR Toware, Kabupaten Jayapura. Menteri Yohana ingin melihat langsung dan memastikan proses pemulihan trauma pascabencana pada perempuan dan anak sudah berjalan dengan semestinya.

Sebagai langkah cepat tanggap, Menteri Yohana, telah menginstruksikan Deputi terkait untuk terlebih dahulu melihat langsung kondisi perempuan dan anak pascabencana banjir di Sentani.

Sejumlah bantuan spesifik anak pun telah diberikan di antaranya, susu, makanan dan perlengkapan bayi, pakaian anak, mainan anak dan perlengkapan mandi.

Selain itu, diberikan juga kebutuhan spesifik perempuan seperti, pakaian daster, susu ibu hamil dan lansia, selimut, keperluan spesifik perempuan dan lansia serta makanan.

“Memberikan bantuan pokok memang penting, namun memastikan agar perempuan dan anak tetap dapat hidup layak dan tak mengalami trauma pascabencana juga tak kalah penting. Kegiatan rehabilitasi psikologis dan pemulihan trauma pascabencana dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk bermain, bernyanyi, bercerita, dan berdoa bersama sebab anak harus tetap merasakan senang, aman, dan nyaman walaupun dalam kondisi pascabencana,” kata Menteri Yembise saat mengunjungi salah satu posko pengungsian tepatnya di GOR Toware, Jayapura, Minggu (31/3).

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian PPPA, Vennetia R Dannes mengatakan, kehadirannya untuk memastikan kondisi perempuan dan anak pada proses rehabilitasi, serta tak lupa juga untuk memastikan bahwa kebutuhan khusus perempuan dan anak sudah terpenuhi dengan baik.

“Proses pemulihan trauma pascabencana menjadi penting, mengingat mereka harus kembali melanjutkan kehidupannya setelah bencana ini. Oleh karena itu, kami membawa psikolog khusus perempuan dan anak agar dapat memberikan pemulihan dan pemahaman tentang bagaimana agar dapat bangkit dari bencana,” tambah Vennetia.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga akhir 2019, masih ada 5.347 jiwa yang tersebar di 21 titik posko pengungsian. Mayoritas korban yang masih ada di pengungsian merupakan korban dari meluapnya Danau Sentani. Sedangkan di posko pengungsian GOR Toware, jumlah pengungsi yang masih bertahan sebanyak 532 jiwa, mayoritas mereka berasal dari Distrik Sentani. Adapun jumlah pengungsi perempuan sebanyak 130 jiwa, laki-laki sebanyak 146, dan pengungsi anak sebanyak 226 jiwa.

Menteri Yohana menambahkan, kondisi Indonesia yang berada pada lingkaran rawan bencana membuat kita harus selalu waspada dan siap menghadapi bencana, khususnya perempuan dan anak yang rentan mengalami kejahatan saat situasi darurat dan kondisi khusus.

“Selain itu, untuk mencegah terjadi bencana seperti ini lagi saya kira ke depannya perlu ada gerakan untuk pelestarian lingkungan, seperti gerakan 1000 perempuan dan anak menanam pohon bersama.(mdc)