BERBAGI
Makawaru Da Cunha/Wone Pdt. Dorman Wandikbo,STh
Makawaru Da Cunha/Wone
Pdt. Dorman Wandikbo,STh

Disebabkan Pelanggaran HAM Tak Diselesaikan

JAYAPURA-Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak tahun 2019 tinggal menghitung hari, tetapi khususnya di Provinsi Papua, partisipasi politik rakyat dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) sepertinya kurang bergairah, jika dibanding Pemilihan Legislatif (Pileg).

Demikian disampaikam President Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pdt. Dorman  Wandikbo,STh di Jayapura, Kamis (28/3).

Dorman mengatakan, penyebab utama mengapa rakyat kurang bergairah menyambut Pilpres, salah-satu penyebabnya adalah dari satu presiden ke presiden yang lain, ternyata mereka tak mampu menyelesaikan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Papua.

Ia menyampaikan contoh, kasus Nduga yang menyebabkan ribuan rakyat hingga kini mengungsi ke  wilayah tetangga Kabupaten Jayawijaya. Kemudian bencana banjir bandang di Sentani adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) hampir 11.000 jiwa kehilangan tempat tinggal, karena diterjang air bah. Tapi kenyataannya tak ada Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang datang, untuk menyelesikan kasus tersebut.

“Saya mau katakan kalau mau pilih presiden sebenarnya untuk apa. Untuk orang Papua atau untuk siapa. Hal-hal begini yang membuat sebagian besar rakyat tak reaktif membahas Pilpres.

Oleh karena itu, kata Dorman, siapapun yang akan terpilih sebagai pemimpin bangsa lima tahun ke depan apakah Joko Widodo—KH. Ma’ruf Amin (Jokowi –Ma’ruf) atau Prabowo Subianto–Sandiaga Uno (PADI), satu hal atau Pekerjaan Rumah (PR) paling terpenting adalah menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua.

“Saya tak bisa katakan barang itu bisa diselesaikan oleh Jokowi atau Prabowo, karena dari presiden ke presiden permintaan rakyat hanya satu, yakni mampu menyelesaikan  kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua. Jika mampu maka orang Papua pasti akan memilih sesuai hak pilihnya,” katanya.(mdc)