BERBAGI
Pengungsi Anak Usia Sekolah Nduga Kekurangan Alat Tulis
: Suasana belajar anak-anak pengungsi di sekolah darurat yang dibangun di halaman gereja Kingmi Weneroma, Wamena, Jayawijaya, Selasa (12/2).

WAMENA – Tim relawan pengungsi warga Nduga di Wamena dibantu para guru telah membangun sebanyak 9 ruang kelas sekolah darurat di halaman Gereja Weneroma, Kampung Ilekma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Hanya saja, saat ini mereka terkendala alat tulis untuk siswa dan siswi pengungsi.

Koordinator Tim Relawan Pengungsi Nduga, cmengatakan, sekolah darurat ini telah dimulai Senin, 11 Februari 2019 dan jumlah siswa dan siswi yang mengikuti yang belajar di sekolah darurat sebanyak 406 orang siswa dan siswi.

“Kami belum bisa pastikan berapa sebenarnya jumlah anak-anak pengungsi yang ada di Wamena, tapi yang sudah datang ada 406 orang anak,” jelas Ence yang juga salah satu staf Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) itu.

Selama dua hari ini, kata Ence dalam proses belajar hanya mengingatkan kembali pentingnya aktivitas belajar dan mengajar di bangku pendidikan, dan terkait aturan-aturan.

“Harapan kami, semoga kegiatan belajar mengajar yang ada di sini berjalan baik,” harap Geong.

Hanya saja, menurur koordinator tim relawan, anak-anak pengungsi ini mengalami kesulitan soal alat tulis dan buku.

“Saat ini kami kesulitan soal ATK untuk para pelajar tapi kami bersyukur guru-guru menyumbang sehingga setiap anak mendapat satu buku dan satu alat tulis, dan ada beberapa pihak yang mau membantu, besok mereka ada bawa,” tuturnya.

Dari catatan relawan, sebanyak 406 anak usia sekolah yang kini berada di Wamena ini dari beberapa jenjang pendidikan, diantaranya sepuluh sekolah dasar (SD), lima sekolah menengah pertama (SMP), dan dua sekolah menenagah atas (SMA) yang tersebar di delapan distrik di daerah terdampak konflik.

“Dari catatan kami anak-anak ini tersebar di 20 titik di Wamena, termasuk sampai di Distrik Hubikiak, di belakang Puskesmas ada 15 orang anak. Kami berencana akan membangun barak untuk perempuan dan laki-laki dengan daya tampung 200 orang untuk laki-laki dan 200 untuk perempuan. Tapi ini kami omong besar tanpa ada satu rupiah pun di tangan kami, tapi akan bergeriliya mencari dana mulai besok,” tutur Ence.

Saat ditanya peran pemerintah Nduga, Ence mengaku sejauh ini Dinas Pendidikan Nduga yang mulai mengambil langkah untuk membantu para pengungsi terutama anak-anak sekolah yang mengungsi.

“Tapi dinas sosial ini kami bingung, karena sudah berbulan-bulan lebih tapi sampai saat ini mereka belum turun tangan. Sedangkan wakil bupati dan bupati, DPR mereka sebenarnya sempat turun ke daerah konflik untuk evakuasi 4 karyawan yang hilang, tapi sampai sekarang belum jelas,” ujarnya.

Meski begitu, Ence melihat pemerintah belum turun tangan tapi saat ini melalui dinas pendidikan mereka mulai bergerak. Dia selaku koordinator tim relawan berharap, tidak hanya dinas pendidikan saja yang turun tangan, namun beberapa instansi yang berkaitan langsung dengan masyarakat dapat turun tangan melihat nasib para pengungsi yang mencapai 2000 an jiwa di Wamena.

“Yang kami butuhkan adalah dinas pendidikan, dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan dinas kesehatan karena ini dinas yang sangat kami kami butuhkan saat ini terkait kondisi pengungsi yang ada di Wamena,” pungkasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya jumlah siswa dan siswi yang didata tim relawan sebanyak 320 orang anak, namun hingga senin kemarin jumlah anak bertambah sekitar 86 anak jadi total siswa yang mengikuti proses belajar di sekolah darurat itu sebanyak 406 siswa dan siswi.(lay/pel)