BERBAGI
ISTIMEWA  Warga Distrik Goyage saat saling tolong-menolong melewati banjir bandang
ISTIMEWA
Warga Distrik Goyage saat saling tolong-menolong melewati banjir bandang

Ratusan Warga Mengungsi

JAYAPURA-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolikara menetapkan status tanggap darurat bencana, pascabanjir bandang yang melanda perkampungan Dugi, Distrik Goyage, sejak Senin (14/1) kemarin. Total 500 warga telah mengungsi akibat dampak dari banjir bandang tersebut.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Tolikara, Derwes Jikwa menuturkan, status tanggap darurat dikeluarkan untuk memaksimalkan penanganan bencana banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Tolikara.

“Kami sudah keluarkan status tanggap darurat bencana, pascabanjir bandang di Distrik Goyage. Apalagi cuaca hujan di wilayah tersebut masih terjadi hingga dikhawatirkan terjadi banjir atau longsor susulan,” tuturnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (16/1).

Derwes menyebutkan, proses pendataan masih terus berlanjut hingga ke Distrik Geya. Pendataan lanjutan ini menyusul kabar banjir juga melanda perkampungan di Distrik Geya. “Informasinya Distrik Geya juga terkena banjir, akibat hujan yang berkepanjangan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tolikara, Feri Kogoya menyebutkan, 500 warga telah mengungsi untuk menghindari banjir susulan karena tingginya curah hujan selama dua minggu terakhir.

“Dari data kami ada 500 warga yang mengungsi, mereka mengungsi ke lokasi yang lebih datar. Sebab, ratusan warga ini telah bermukim di sekitar lereng dan kaki perbukitan,” terang Feri Kogoya saat dihubungi, Rabu (16/1)

Dari pantauan BPBD Tolikara, papar Feri, terdapat 10 titik longsor di sekitar lokasi banjir. Ia menyebutkan, curah hujan di Tolikara masih tinggi hingga saat ini. “Dampak banjir teryata tidak hanya mengenai enam kampung di Distrik Goyage. Namun, empat kampung di Distrik Geya juga terkena banjir,” ungkapnya.

Feri menambahkan, pihaknya masih melakukan pencarian terhadap tiga warga yang dinyatakan hilang akibat banjir bandang di Distrik Goyage. Ketiga korban adalah  Akina Wenda (38), Akitera Kogoya (2) dan Kiwena Morib (25).

“Tiga warga yang hilang karena terseret banjir belum ditemukan hingga Rabu siang. Kami bersama BPBD dan pihak kepolisian masih mencari ketiga korban, ” imbuhnya.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Mustofa Kamal saat dikonfirmasi, Rabu (16/1), menyebutkan, pihak kepolisian setempat telah menerjunkan 10 anggota polisi dari Brimob Polda Papua dan Polres Tolikara untuk membantu proses pencarian tiga warga yang hilang.

Selain membantu pencarian korban banjir bandang, Kamal melanjutkan, aparat kepolisian juga menyalurkan bantuan makanan bagi warga yang menjadu korban banjir yakni  7 karung beras dan 10 dua mie instan.

140 JIWA MENGUNGSI MENURUT LAPORAN BPBD PAPUA

Sebanyak 140 jiwa terpaksa mengungsi, pascabencana banjir bandang yang menerjang Kampung Dugi, Distrik Goyage, Kabupaten Tolikara. Demikian disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua, Welliam R. Manderi di Jayapura, Rabu (16/1).

Dikatakannya, kini yang menjadi kebutuhan mendesak adalah stok logistik untuk penanganan bagi 140 jiwa yang mengungsi, akibat bencana banjir bandang ini.

Ia mengatakan, pihaknya telah melaporkan bencana banjir bandang kepada Bupati Tolikara dan berkoordinasi dengan BPBD setempat guna mendorong logistik.

Dikatakannya, BPBD Provinsi Papua, BPBD Kabupaten Tolikara bersama TNI/Polri dan masyarakat tengah melakukan pencarian terhadap dua orang dewasa serta satu balita yang hilang.

Akibat banjir bandang ini, terangnya, lima korban dinyatakan hanyut dan baru dua korban yang ditemukan. Masing-masing Akiton Kogoya (12 tahun) dan Akis Wenda (9 tahun) sedangkan tiga korban lainnya masih dilakukan upaya pencarian. Masing-masing Akitera Kogoya (3 bulan), Akina Wenda (38 tahun) dan Kiwena Murib (25 tahun).

Ditambahkannya, bencana banjir bandang ini juga menghanyutkan sejumlah rumah, satu unit sarana ibadah, satu unit sarana kesehatan, satu unit sarana perkantoran, lima hektare lahan pertanian, satu unit bangunan lain dan 15 ekor ternak.(ful/mdc)