BERBAGI
Sunario/Wone  Kornelles Rumboirusi
Sunario/Wone
Kornelles Rumboirusi

“Dalam satu kamar tahanan itu, kita tidak bisa membuat jumlah mereka dengan angka genap (berpasang-pasangan-red). Karena ditakutkan, salah satu dari mereka ada yang berperilaku penyimpangan seks (homo-red),” Kalapas Kelas II Abepura, Kornelles Rumboirusi

JAYAPURA-Kapasitas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) hingga saat ini masih menjadi persoalan yang serius. Akan tetapi, walaupun telah kelebihan penghuni, Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Abepura, Kornelles Rumboirusi mengungkapkan, pihaknya akan tetap maksimalkan kondisi yang itu.

“Saat ini jumlah penghuni di Lapas ini telah mencapai 686 orang, jumlah ini tentu telah melebihi dari jumlah kapasitas normalnya hanya sebanyak 600 orang. Walaupun demikian, kita masih bisa mengatasi kondisi ini dengan cara memaksimalkan segala sumber daya yang ada,” ujar Kornelles di Jayapura belum lama ini.

Kornelles mengatakan, kondisi (jumlah) penghuni di lapas itu, setiap bulannya selalu berbeda-beda, bahkan Lapas tersebut kata Kornelles pernah dihuni hingga 730 orang. Akan tetapi, pihaknya tidak pernah kehabisan akal, agar terjadinya over kapasitas itu tidak menimbulkan suatu persoalan baru terhadap para penghuninya di Lapas.

“Lapas Kelas II A Jayapura ini, selain dijadikan sebagai Lapas, tapi juga sebagai Rutan. Jadi kedua manfaat ini harus bisa kita optimalkan keberadaannnya. Adapun tahanan yang sifatnya titipan di Lapas ini, tahanan Jaksa ada 110 orang, Pengadilan Negeri 87 orang, Pegadilan Tinggi 9 orang dan masih ada lagi titipan dari instansi lainnya,” kata Kornelles.

Walaupun tidak ada langkah khusus yang dilakukan oleh pihaknya untuk mengatasi permasalahan over kapasitas tersebut, akan tetapi dengan cara mengkondisikan jumlah kamar yang ada hal itu bisa diatasi. Artinya, jika dalam satu kamar hanya bisa menampung 9 orang tahanan, dengan menambah jumlah penghuninya hingga 13 orang, hal itu diharapkan bisa teratasi.

“Dalam satu kamar tahanan itu, kita tidak bisa membuat jumlah mereka dengan angka genap (berpasang-pasangan-red). Karena ditakutkan, salah satu dari mereka ada yang berperilaku penyimpangan seks (homo-red), sehingga dengan membuat mereka dalam jumlah ganjil dalam satu kamar, penyimpangan-penyimpangan seperti itu bisa teratasi dengan sendirinya,” pungkasnya.(sun)