BERBAGI
MAKAWARU DA CUNHA/WONE  Suasana Sekolah Pasar Modal (SPM) di Kantor Perwakilan BEI Perwakilan Papua di Polimak, Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura pada Sabtu (12/1).
MAKAWARU DA CUNHA/WONE
Suasana Sekolah Pasar Modal (SPM) di Kantor Perwakilan BEI Perwakilan Papua di Polimak, Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura pada Sabtu (12/1).

Cerita Dua OAP yang Ikut Sekolah Pasar Modal BEI Perwakilan Papua

BEI Perwakilan Papua Program menggelar program SPM sejak beberapa tahun lalu. Program SPM memberikan edukasi mengenai investasi di Pasar Modal Indonesia kepada masyarakat umum di Papua, yang terbuka untuk umum dan dapat diikuti siapapun yang memiliki minat untuk mendalami investasi di Pasar Modal. Inilah cerita dua OAP yang  Ikut  SPM tersebut?

Laporan : MAKAWARU DA CUNHA

 SEKITAR 30 orang dari pelbagai latar belakang dan status sosial  dengan tekun ikut Sekolah Pasar Modal (SPM), yang digelar Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Papua di kawasan Polimak, Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura pada Sabtu (12/1). Keduanya adalah  Lidya Elisabeth Yarona, PNS pada Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupetn (Pemkab) Jayapura dan Ken Lides Mofu Guru Kontrak di  Pemkab Jayapura di SD YPK Kanda, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.

Lidya mengatakan, dirinya adalah seorang pedagang kecil yang memiliki usaha kios, untuk  melayani kebutuhan masyarakat bumbu dapur, sere, lengkuas, pulsa dan lain-lain.

Bertahun-tahun menjalani profesi sebagai pedagang. Rupanya dewi fortuna memihaknya, sebab 8 tahun lalu ia diterima sebagai PNS.  Dari gaji yang diperolehnya dari abdi negara tersebut ia sisihkan   untuk menyetor cicilan kredit, untuk mengembangkan usahanya. Kesehariannya ia pun menabung emas.

Alkisah, seorang  kerabatnya yang sudah ikut program SPM tahun sebelumnya menyampaikan kepadanya, bahwa para peserta SPM juga mendapatkan fasilitas pembukaan rekening saham dengan deposit awal mulai Rp. 100.000. Apalagi Lidya mengetahui bahwa investasi yang paling menguntungkan di tahun 2019 ini adalah saham.

“Saya tertarik, karena profit atau keuntungan perminggu lebih besar, jika saya penjual pulsa. Makanya saya coba dulu ikut SPM,”  tuturnya.

Ia mengatakan, melalui SPM mereka diajarkan untuk investasi, khususnya di pasar modal. “Jadi uang yang ada jadi besar, tapi  dimulai dari yang kecil. Gaji saya kan  sudah potong untuk kredit tinggal Rp 1 Juta. Rencananya Rp 500.000 saya harus simpan lagi masuk ke saham,” terangnya.

Sementara itu, Ken Lides Mofu menuturkan, ia mendapat informasi BEI Perwakilan Papua menggelar program SPM melalui Medsos. Sebenarnya dari tahun lalu sering mendapat informasi adanya program SPM. Tapi karena sibuk mengajar,  sehingga baru kali ini ikut  program SPM.

“Saya tertarik menabung di bursa saham, karena berbeda dengan menabung di Bank. Jika di Bank tabungan kita setiap saat dipotong. Tapi di bursa saham tabungan kita terus-menerus naik seiring dengan  kenaikan harga saham,” ungkapnya.

Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas  Cenderawasih Jayapura ini menjelaskan, ia tertarik ikut SPM, karena ingin mengetahui segala sesuatu aktivitas di dalam pasar modal itu seperti apa. Selama ini ia mengetahui pasar modal secara umum, seperti tentang jual beli saham.

“Di situ terjadi jual beli saham dan kita sebagai investor di kemudian hari. Kalau sudah mulai paham tentang pasar modal. Itu keuntungan dari jual beli saham. Pemahaman saya pasar modal ini seperti pedagang, hanya saja pasar modal lebih ke perdagangan uang digital,”  terangnya optimis.

PALING TINGGI DI DUNIA

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Perwakilan BEI Perwakilan Papua, Kresna A. Payokwa menerangkan, pasar modal Indonesia ini selama 10 tahun terakhir itu dari sisi kinerja atau dari sisi pertumbuhannya itu merupakan pasar modal dengan tingkat keuntungan paling tinggi di dunia.

Kresna mengatakan, jadi tingkat presentase keuntungannya, maksudnya dia punya saham-saham yang ada di BEI itu kenaikannya itu merupakan paling tinggi di dunia, jika dilihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Selama 10 tahun terakhir itu dibandingkan negara maju sekalipun misalnya Amerika Serikat, Singapura, Jepang itu bursa-bursa mereka kenaikan IHSG masih di bawah Indonesia. Jadi kita merupakan bursa efek yang paling menguntungkan di dunia selama 10 tahun terakhir ini,” ucapnya.

Hanya sayangnya, kata Kresna, dengan fakta seperti itu rupanya komposisi investor di Indonesia itu 80 persen dari pada pemilik saham besar di BEI adalah investor asing.

“Makanya sejak tahun 2013 kita mengevaluasi itu. Lalu kita  mencoba bagaimana caranya ya supaya jangan asing yang menguasai  kita. Jangan sampai modal asing itu yang mendominasi dari pada saham-saham di BEI,” tuturnya.

Karena itu, ujar Kresna, pihaknya belakangan ini gencar mengajak masyarakat domestik (lokal), untuk juga tahu mengenai pasar modal. Bahkan juga  menjadi investor.(*)