BERBAGI
MAKAWARU DA CUNHA/WONE  Gubernur Papua Lukas Enembe, didampingi Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Yan Matuan dan Staf, berpose bersama usai pelantikan pengurus KPA Papua di  Jayapura, beberapa  waktu lalu.
MAKAWARU DA CUNHA/WONE
Gubernur Papua Lukas Enembe, didampingi Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Yan Matuan dan Staf, berpose bersama usai pelantikan pengurus KPA Papua di Jayapura, beberapa waktu lalu.

Ancaman Nyata bagi Kehidupan Manusia di Masa Datang

Perkembangan HIV/AIDS di Provinsi Papua dari waktu ke waktu terus meningkat tajam. Tak pernah kita dengar berita perkembangan menurun. Padahal berbagai daya dan upaya untuk menanggulangi perkembangan penyakit yang mematikan ini telah banyak dilakukan?

Laporan: Makawaru Da Cunha

 UPAYA penanggulangan penyakit HIV/AIDS menjadi perhatian umum yang melibatkan peran dari berbagai stakeholder baik pemerintah, lembaga nonpemerintah (LSM) dan lembaga internasional.

“Semua menaruh perhatian besar terhadap penanggulangan penyakit ini melalui berbagai cara, daya dan upaya. Namun faktanya perkembangan penyakit tersebut justru terus meningkat tajam,” tegas Intelektual Papua Paskalis  Kossay di Jayapura, Jumat (10/1).

Ia mengatakan, hal ini terbaca dari hasil rilis perkembangan tahunan HIV/AIDS oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua per 30 September 2018 (Kompas. Com 1/12/2018).

Dalam laporan tahunan perkembangan HIV/AIDS tersebut, kata Paskalis, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Aloysius Giay mengungkapkan ada 38.874 orang penderita HIV/AIDS di Provinsi Papua.

Dikatakannya, membaca angka yang sudah mencapai 30 ribuan ini cukup mengejutkan bagi kita semua. Namun tak menimbulkan keprihatinan bersama. “Semua orang pasti membaca berita ini, namun tak terbawa emosi untuk bergerak mencari solusi bagaimana menanggulangi penyakit menular ini,” katanya.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua pun setelah dirilis perkembangan tahunan HIV/AIDS tak disampaikan langkah konkrit apa yang akan diambil tahun 2019 ini setelah dipublis hasil kerja penanggulangan tahun 2018 lalu.

“Sepertinya hanya melempar isu ke publik tanpa diikuti langkah solusi yang akan diambil kedepannya,” terangnya.

Ia menjelaskan, memang ada banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga resmi pemerintah (KPAD) yang peduli menanggulangi penderita HIV/AIDS ini, namun dalam aktivitasnya masih tergantung pada kebijakan otoritas penyelenggara pemerintahan di daerah dalam hal ini instansi teknis terkait.

Menurut dia, Dinas Kesehatan Provinsi sebagai instansi teknis yang bertanggung jawab langsung dengan urusan penanggulangan HIV/AIDS ini mestinya merangkul semua stakeholder yang peduli terhadap HIV/AIDS ini untuk duduk bersama mencari terobosan baru dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS ini.

Melihat jumlah penderita yang spektakuler seperti ini, jelasnya, tak bisa ditangani dengan langkah-langkah rutinitas yang bersifat monoton belaka. Tapi harus diambil langkah-langkah terobosan yang punya resonansi luas, mengerakan semua orang ikut peduli  mengambil bagian dalam upaya penanggulangannya. Tapi langkah-langkah besar yang dimaksud misalnya, ditentukan tema “Gerakan Penaggulangan HIV-AIDS Papua”.

Dijelaskannya, gerakan ini dikampanyekan terus-menerus selama 1 atau 2 tahun melalui metode ceramah, diskusi, pengarahan, sosialisasi, simulasi, pemutaran film (visualisasi), simposium, seminar dan lain-lain.

Adapun sasaran kampanye adalah kepada semua kelompok umur yang rentan dengan penularan HIV/AIDS, seperti kelompok anak sekolah tingkat SLTP, SLTA sampai mahasiswa, kelompok ibu rumah tangga, kelompok PNS, TNI, Polri, karyawan perusahaan, kelompok profesi sampai kelompok masyarakat umum di kampung-kampung dengan melibatkan Kepala Kampung, Kepala Distrik dan Kepala Suku.

Dia mengutarakan, untuk menggalakkan kampanye gerakan penanggulangan HIV/AIDS ini, direkrut potensi generasi muda sarjana penganggur, tokoh-tokoh gereja, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh perempuan, LSM, dan aparat pemerintah instansi terkait.

Semua stakeholder ini bergerak bersama-sama dalam semangat yang sama dan visi, misi yang sama, diyakini resonansi gerakan itu akan bergetar terus menembus pada tumbuhnya kesadaran akan bahayanya penyakit HIV/AIDS itu sendiri.

Dengan demikian, ungkapnya, bisa diminimalisir atau ditekan tingkat perkembangan HIV/AIDS sampai pada titik terendah secara nasional. “Memang gerakan seperti begini, adalah gerakan gila,” tandasnya.

Karena itu, katanya, harus membutuhkan ketersediaan dukungan dana yang lumayan besar. Namun demi menyelamatkan nyawa manusia, harus ada mimpi dan kemauan untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi kemanusiaan. Jika ada kemauan, pasti ada jalan.(mdc)