BERBAGI
Sunario/Wone  Kornelles Rumboirusi
Sunario/Wone
Kornelles Rumboirusi

JAYAPURA–Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Abepura, Kornelles Rumboirusi membantah, telah memberikan keistimewaan (perlakuan khusus) kepada mantan Bupati Biak Numfor, Thomas Alfa Edison Ondy yang merupakan terpidana kasus korupsi saat menjabat Kepala Badan Keuangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Memberamo Raya tahun 2011-2013 senilai Rp 84 miliar.

Pasalnya, adanya pemberitaan dari salah satu media (tanpa menyebut nama) dengan narasumber tokoh masyarakat dan aktivis mahasiswa yang mengkritik kinerja Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Abepura yang menyebutkan bahwa terpidana korupsi Thomas Alfa Edison Ondy telah diberikan keistimewaan oleh Kalapas untuk bisa merayakan Natal bersama keluarga besarnya di Kabupaten Biak.

“Hal ini merupakan tanggapan dan kritikan yang keliru. Karena sejak 23 Desember 2018 lalu, Thomas Ondy tidak lagi berstatus sebagai warga binaan di Lapas kelas II A Abepura ini, beliau dengan keluarga telah mengajukan permohonan pindah ke Lapas Kelas II B Biak. Secara administrasi dan SOP yang ada telah memenuhi standar, di mana setiap Lapas itu ada tim pengamat kemasyarakatan yang sebelumnya telah bersidang,” kata Kornelles kepada Wone, Selasa (8/1).

Kata Kornelles, dari hasil keputusan sidang tersebutlah, maka Lapas II A Abepura telah mendapat petunjuk lebih lanjut, terkait pertimbangan dan keputusan dari tim pengamat kemasyarakatan tingkat kantor wilayah. Di mana setelah disidangkan di tingkat wilayah, maka yang bersangkutan secara hukum telah diperbolehkan untuk menjalani sisa pidana di Lapas Kelas II B Biak.

Menurut Kornelles, jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Biak masih meminta data sekitar kasus tersebut, maka dirinya berkeyakinan bahwa yang bersangkutan (tersangka) siap memberikan keterangan. Kornelles pun berjanji akan mendorong dan siap memberikan petunjuk melalui Kepala Devisi Kemasyarakat jika nantinya diminta keterangan akan hal tersebut.

“21 Desember 2018 lalu, putusan pemindahan yang bersangkutan tersebut telah keluar. Kemudian pada 23 Desember yang bersangkutan meminta dicarikan tiket untuk berangkat di tanggal yang sama (dikawal dengan dua orang pegawai). Hanya saja tiket yang ada itu, statusnya menunggu (boleh berangkat, tapi harus tetap berada di Bandara-red). Hal ini lah yang menjadi awal mula masalah, karena memang tanggal tersebut juga bertepatan dengan hari raya Natal dan Tahun Baru. Setelah jam 13:00 WIT (1 siang-red) yang bersangkutan bersama dua orang pegawai tersebut tidak mendapatkan tiket,” ungkap Kornelles menceritakan kejadian tersebut.

Hanya saja dirinya sangat menyesalkan, kenapa kedua pegawai pengawal yang diutus tersebut tidak melaporkan kepada dirinya selaku pimpinan bahwa mereka tidak jadi berangkat ke Biak dan dirinya juga tidak bisa menghubungi telepon genggam (Handphone) milik kedua pengawal tersebut. Dan setelah 28 Desember, Ia baru mendapat informasi bahwa Thomas Ondy belum masuk dan baru mau masuk ke Lapas Biak.

“Atas kejadian ini pun, saat ini kami telah melakukan pemeriksaan kepada kedua pengawal yang kami utus tersebut. Selanjutnya mereka berdua akan kami jatuhkan sanksi tegas. Jadi izin tersebut seutuhkan diberikan oleh kedua pengawal itu, dengan membuat kebijakan sendiri tanpa pemberitahuan kepada saya selaku pimpinan,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Thomas Alfa Edison Ondy dalam beberapa waktu lalu telah dijatuhi hukuman 10 tahun penjara (setelah naik banding di tingkat Pengadilan Tinggi) dan kemudian tersangka meminta untuk sisa masa tahanan dijalani di Lapas Kelas II B Biak, dan hal itu telah disetujui melalui proses dan tahapan yang diatur dalam Undang-Undang (UU).(sun)