BERBAGI
Yudhi/Wone  Direktur Penanganan Fakir Miskin Wilayah III, Kemensos RI, Dr. Abdul Hayat Ghani,M.Si saat menyerahkan secara simbolis Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Distrik Abepura, Kota Jayapura, Senin (30/10) di BBPPKS Regional VI Papua
Yudhi/Wone
Direktur Penanganan Fakir Miskin Wilayah III, Kemensos RI, Dr. Abdul Hayat Ghani,M.Si saat menyerahkan secara simbolis Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Distrik Abepura, Kota Jayapura, Senin (30/10) di BBPPKS Regional VI Papua

BPNT, Lanjutan Program Rastra yang Dilakukan Kemensos RI

JAYAPURA-Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebelumnya masuk dalam program Beras Sejahtera (Rastra). Ranstra ini dikemas sedemikian rupa kemudian dilakukan transformasi hingga mengerucut kepada inovasi yang disebut BPNT.

Demikian dikemukakan, Direktur Penanganan Fakir Miskin Wilayah III Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), Dr. Abdul Hayat Ghani,M.Si di sela-sela Penyaluran Bantuan Non Tunai (BPNT) Distrik Abepura, Kota Jayapura, Senin (30/10) di BBPPKS Regional VI Papua.

Menurutnya, mengapa program ini dilakukan supaya menghindari kebocoran-kebocoran kemudian diajar masyarakat untuk gunakan kartu guna mendekatkan dengan perbankan (Himbara) supaya inklusi keuangan bisa meningkat.

“Dengan proses penyaluran BPNT ini maka kita bisa yakini bahwa itu akan tepat sasaran, tepat jumlah, tepat waktu serta tepat kualitas untuk penyaluran beras dan telur,” jelasnya.

Mengapa tidak digunakan uang tunai, kata Abdul, sengaja tidak dilakukan supaya Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bisa langsung menerima dan memanfaatkannya.

“Kalau kartu diisi uang dan dibelanjakan maka dapat diperkirakan ini tidak sesuai dengan peruntukkannya,” katanya.

Program yang di tengah dijalankan ini menurutnya, banyak sekali kendala yang dihadapi, salah satunya letak geografis, tenaga terbatas, tingkat pendidikan serta pemahaman.

“Ini adalah proses-proses yang kita butuhkan untuk sebuah proses edukasi yang kuat. Kami berharap lewat program ini dapat menurunkan angka kemiskinan,” harapnya.

Menyoal mengenai tingkat keberhasilan dari program yang dikucurkan Pemerintah Pusat melalui Kemensos, Abdul menjawab, sudah dilakukan dan ada penurunan.

“Adanya penurunan makanya kita lakukan program ini terus. Ini program sama saja, tetapi penamaannya yang dirubah sesuai kebutuhan zaman,” paparnya.

Dia menambahkan, dulu program Beras untuk Orang Miskin (Raskin) banyak kebocoran maka dirubah menjadi Rastra.

Rastra sudah berjalan hampir setahun, ujar Abdul, dirubah lagi menjadi BPNT. “Dulunya tunai menjadi non tunai,” tegasnya.

Apa targetnya non tunai, lanjut Abdul, supaya dapat memastikan bantuan pemerintah dari pusat dapat langsung diterima masyaralat yang betul-betul membutuhkan.

“Kalau sudah tiba dengan tepat maka dengan sendirinya mengurangi beban masyarakat. Masyarakat yang tadinya beli beras, tidak beli lagi karena gratis,” tukasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk 182 kabupaten/kota di wilayah III Indonesia sesuai pemetaan Kemensos alokasi dananya sebesar Rp 6 triliun. “Meliputi Sulawesi, Jawa Timur, Maluku dan Papua,” pungkasnya.(yek)