BERBAGI

SERUI-Diduga karena tidak aktifnya proses pembelajaran di SD YPK Miosnum sehingga sekolah yang berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen, tepatnya di Yapen Timur itu kemudian dipalang. Tulisan “SD YPK Miosnum kami tutup karena tidak ada guru” yang ditulis oleh warga diatas selembar spanduk sebagai tanda pemalangan.

Menanggapi hal ini, Wakil Bupati Kabupaten Yapen Frans Sanadi, yang ditemui pada Rabu (26/9), menuturkan pihaknya berkomitmen menghadirkan pendidikan yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Meski demikian, status sekolah tersebut membuat pihaknya perlu melakukan koordinasi terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.

“Saya sudah melakukan koordinasi dan mendapatkan petunjuk dari Bupati. Dan kami sudah mendatangi Dinas Pendidikan khususnya Kepala bidang SD untuk bagaimana bisa melihat apa yang sedang terjadi sampai dilakukannya pemalangan tersebut,”ujarnya.

Dari sisi kelembagaan, kata Wakil Bupati, harusnya tanggung jawab ada di pihak BPM/PSW YPK. Namun dari sisi pendidikan secara menyeluruh, pihaknya selaku pemerintah meminta kepada Dinas Pendidikan yang ada di bidang SD untuk melihat permasalahan ini.

Dijelaskannya, dari informasi yang didapatkan bahwa pemalangan ini bisa ada dua sebab yakni terkait kepala sekolah atau terkait adanya beberapa guru yang dalam proses kontrak ulang dan kemudian tidak dikontrak lagi sehingga kemudian melakukan aksi pemalangan.

“Perlu melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan Dinas Terkait menyangkut mana guru-guru yang benar-benar bertugas, jangan sewenang-wenang untuk melakukan pemalangan sekolah,”tegasnya.

Ia pun meminta agar sekolah tersebut segera dibuka kembali dan tidak boleh lagi terjadi pemangalang terhadap fasilitas pendidikan. “Saya meminta agar sekolah tersebut harus dibuka, kalau tidak saya sendiri yang akan bawa kepala sekolah dan guru dari Serui ke Pulau Miosnum,”tegasnya.

Wakil Bupati menyesalkan cara-cara memalang seperti yang terjadi di SD Miosnum. Sebab bila ada persoalan menyangkut apapun itu, seharusnya melakukan koordinasi terlebih dahulu untuk kemudian dipikirkan solusi yang terbaik.

Salah satu warga yang ditemui wartawan WONE, menuturkan kondisi tidak adanya guru membuat aktivitas belajar berhenti. “Anak kita mau belajar bagaimana kalau guru tidak ada di sekolah. Baru anak-anak kita yang harus jalan jauh ke sekolah tapi  sia-sia datang ke sekolah karena tidak ada guru,”ungkap salah satu orang tua murid yang enggan dikorankan namanya ketika ditemui pada, Rabu (26/9).(her/jog)