BERBAGI

SERUI – Dinas Kesehatan Provinsi Papua dalam hal ini Balai Penanggulangan dan Pengendalian AIDS, TBC, Malaria (ATM) terus melakukan koordinasi kepada Dinkes yang ada di setiap kabupaten guna percepatan penurunan kasus malaria.

Salah satunya dengan menggelar Workshop Pengembangan dan Pengaktifan Malaria Center di Regional Adat Saireri yang di lakukan di salah satu hotel yang ada di Serui, Kamis (20/9).

Kegiatan dibuka secara langsung oleh Bupati Yapen Tonny Tesar, dihadiri antara lain Sekda Yapen Alexander Nussy, Wakapolres Yapen, Kadis Kesehatan Yapen, Dandim 1709/YAWA, dr.Jane Soepati Direktur P2PTVZ pusat, Kepala Balai serta para Bidang P2P se-regional adat Saireri.

Kepala Balai Penanggulangan dan Pengendalian AIDS, TB, dan Malaria Dinkes Provinsi  Papua, dr.Beeri I.S Wopari dalam laporannya menuturkan, malaria masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Sehingga kegiatan itu sebagai tahapan agar bebas dari malaria.

” Ini adalah langkah awal yang kita lakukan agar bisa mencapai bebas malaria di tahun 2030,” kata dia.

dr.Beeri berharap, setiap Dinkes dari beberapa kabupaten yang ada di Saireri dapat mengetahui apa yang harus di lakukan dan diimplementasikan ke masyarakat untuk bagaimana bisa bebas malaria.

Sementara Bupati Kepulauan Yapen, Tonny Tesar saat membacakan sambutan Gubernur Papua mengatakan, eliminasi malaria secara bertahap guna mencapai bebas malaria di tahun 2030 merupakan komitmen global dan regional yang tercantum dalam indikator  SDG’s ( Sustainable Development Goal’s).

“Sampai dengan bulan Juli 2018 di Indonesia terdapat 272 kabupaten/kota telah mencapai eliminasi malaria dan 3 provinsi yang seluruh kabupaten/kotanya telah mencapai eliminasi malaria yaitu DKI Jakarta, Bali dan Jawa Timur, sedangkan untuk wilayah timur Indonesia hampir seluruh kabupaten/kota masih endemis tinggi dengan API >5 per 1000 penduduk yaitu Papua, Papua Barat, NTT dan Maluku,” papar Tonny Tesar.

Dia berharap, workshop tersebut merupakan langkah awal untuk menyatukan pandangan dalam mempercepat eliminasi malaria di wilayah adat Saireri.

“Sektor kesehatan harus secara aktif menggandeng pemerintah dari lintas program, lintas sektor terkait, organisasi masyarakat, kragamaan dan swasta agar dapat bersama-sama mempercepat eliminasi malaria di Indonesia khususnya di Papua,” terangnya.

Tonny Tesar menambahkan, Mobilitas penduduk se regional saireri cukup tinggi dan terbukanya potensi penularan  dari satu kabupaten ke kabupaten lain, oleh karena itu untuk mengendalikan penularan malaria tidak cukup hanyak di lakukan di salah satu kabupaten saja tapi perlu melibatkan kabupaten lain juga yang ada di wilayah saireri sehingga target untuk mengeliminasi malaria bisa tercapai.

Kepada awak media usai kegiatan, Bupati Yapen Tonny Tesar mengakui menyukseskan program bebas Malaria 2030 bukanlah pekerjaan yang mudah. Meski begitu, ia percaya dengan komitmen yang tinggi maka permasalahan malaria dapat di atasi.

“Saya berharap dengan adanya kegiatan ini khususnya di wilayah saireri dapat di jadikan momentum untuk bagaimana kita bisa melawan Malaria dan bebas Malaria di 2030. Kitya juga apresiasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi Papua yang menunjuk Kabupaten Yapen sebagai tuan rumah dalam kegiatan ini,” pungkasnya. (Her/Cel)