BERBAGI

JAYAPURA–Penyidik Pengawas Negeri Sipil Perikanan dan Pengawas Sumber Daya Kelautan Perikanan pada Dinas Kelauutan dan Perikanan Provinsi Papua melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah toko ikan hias di wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura, Jumat (27/7).

Sidak yang dipimpin Koordinator Penyidik Pengawas Negeri Sipil (PPNS) Perikanan Wilayah Papua, Yan Wayeni berhasil menemukan empat ikan  Arapaima dan Aligator. Kedua jenis ikan tersebut merupakan ikan yang dilarang beredar di Indonesia.

Yan Wayeni menuturkan, ikan Aligator yang berhasil ditemukan berukuran 30 hingga 50 cm, sementara ikan jenis Arapaima berukuran sekitar 80 cm dengan berat 3-5 kilogram. Keempat ikan ini akan dimusnahkan bersamaan pada awal Agustus mendatang.

Menurut Yan, kedua jenis ikan tersebut dilarang di wilayah Indonesia karena masuk kategori hewan berbahaya atau buas. Hal ini sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 tahun 2014.

Ia pun mengimbau bagi masyarakat yang memiliki jenis ikan Aligator maupun Arapaima untuk menyerahkan secara langsung ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Papua. Sebab, pemilik ikan buas bisa dikenakan hukuman pidana.

“Saat ini, kami hanya memberikan peringatan kepada penjual ikan tersebut agar tidak lagi memperjualbelikan ikan buas. Namun jika dalam penertiban gabungan mendatang ada temuan ikan buas lagi, kami akan lakukan penegakan hukum,” katanya.

Sementara itu, salah seorang pemilik ikan Aligator, Suwarsono mengaku sudah lama menjual ikan jenis Aligator. Ia pun mengaku tak mengetahui, jika ikan tersebut dilarang diperlihara di Indonesia.

“Saya dapat ikan ini dari Surabaya sejak dulu. Bahkan, ikan ini sudah saya jual hingga ratusan kali. Kalau bibitnya dijual seharga Rp. 50 ribu, sedangkan yang berukuran sedang  mencapai jutaan rupiah.

Suwarsino pun menyatakan ikhlas menyerahkan ikan terlarang itu ke pihak berwenang untuk tindakan selanjutnya.  “Saya justru bangga bisa membantu pemerintah mengantisipasi peredaran ikan buas ini. Intinya, saya sebagai penjual tidak mau kena masalah dikemudian hari karena menjual ikan terlarang,” tuturnya. (ful/jog)