BERBAGI
Yudhi/Wone Ketua Program Pendidikan Pascasarjana Spesialis Pekerjaan Sosial pada STKS Bandung, Dr. Aep Rusmana,M.Si didampingi Kabid Diklat dan Kerja Sama saat membuka lembar ujian yang disaksikan secara langsung oleh peserta
Yudhi/Wone
Ketua Program Pendidikan Pascasarjana Spesialis Pekerjaan Sosial pada STKS Bandung, Dr. Aep Rusmana,M.Si didampingi Kabid Diklat dan Kerja Sama saat membuka lembar ujian yang disaksikan secara langsung oleh peserta

Aep Rusmana: Penerapan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Papua Sangat Cocok
JAYAPURA-Sebanyak 15 peserta mengikuti ujian penerimaan mahasiswa baru Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung Tahun Akademik (TA) 2018/2019 di aula BBPPKS Regional VI Jayapura, Senin (16/7).
Ujian yang dilaksanakan ini dilakukan secara serentak di sepuluh lokasi di Indonesia dan salah satunya di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional VI Jayapura.
Kepala BBPPKS Regional VI Jayapura, Drs. Isak Sawo,M.Si dalam hal ini diwakili Kepala Bidang Diklat dan Kerja Sama, Marhaeni,SE mengatakan, STKS Bandung pada saat ini sedang dalam proses perubahan bentuk kelembagaan menjadi Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung.
Lebih lanjut, Politeknik ini merupakan Perguruan Tinggi di bawah Kementerian Sosial RI yang menyelenggarakan Program Studi Sarjana Terapan dan Pascasarjana Magister Terapan.
“Tujuan Program Studi Sarjana Terapan adalah menghasilkan Pekerja Sosial Profesional yang memiliki kompetensi dalam ilmu dan teknologi pekerja sosial. Sedangkan tujuan dari Program Pascasarjana adalah menghasilkan lulusan yang memiiki kompetensi di dalam praktik pekerja sosial lanjutan,” katanya saat membacakan sambutan ujian tulis penerimaan mahasiswa baru tersebut.
Marhaeni menyampaikan, penerimaan mahasiswa baru STKS Bandung TA 2018/2019, pelaksanaan PMB STKS Bandung dilaksanakan dalam dua tahapan yaitu, seleksi akademik (ujian tulis) dan Tes Potensi Akademik (TPA) dan wawancara.
“Kepada seluruh peserta Ujian kami ucapkan selamat menempuh ujian, kerjakan seluruh naskah ujian dengan penuh percaya diri dan dengan teliti sesuai dengan petunjuk soal,” harapnya.

Yudhi/Wone Peserta saat mengikuti ujian akademik masuk STKS Bandung TA 2018/2019
Yudhi/Wone Peserta saat mengikuti ujian akademik masuk STKS Bandung TA 2018/2019

Sementara itu, Ketua Program Pendidikan Pascasarjana Spesialis Pekerjaan Sosial pada STKS Bandung, Dr. Aep Rusmana,M.Si berharap, seluruh warga negara Indonesia di manapun khususnya Papua berkesempatan mengikuti pendidikan kesejahteraan sosial di STKS Bandung.
“Saya berharap semua calon mahasiswa STKS Bandung asal Papua bisa masuk ke kampus tercinta di STKS Bandung ke depan dalam rangka menimba ilmu tentang seorang pekerja sosial,” harapnya.
Menurutnya, STKS sebagai perguruan tinggi vokasi, penyelenggaraannya di bawah Kementerian Sosial RI, itu menerapkan teknologi pekerjaan sosial untuk menangani permasalahan kesejahteraan sosial dengan memanfaatkan sumber-sumber kesejahteraan sosial dengan potensi kesejahteraan sosial yang ada di lokasi itu.
“Ini sangat cocok untuk diterapkan oleh para pekerja sosial lulusan STKS di mana kelebihan dari Papua ini. pertama, lokasinya begitu luas, kedua, penduduknya berdasarkan hasil BPS bahwa tingkat pendidikan di bawah harapan serta tingkat kesehatan masih di bawah harapan secara nasional,” paparnya.
Diakui olehnya, bahwa penerapan ilmu kesejahteraan sosial di Papua sangat cocok, apalagi putra-putri Papua menimba ilmu di STKS untuk kemudian meningkatkan kesejahteraan sosial di Papua.
“Putra-putri Papua ini dapat mengembangkan potensi dan sumber dalam rangka melakukan penanganan-penanganan permasalahan sosial. Serta mengembangkan, memanfaatkan SDM Papua ini,” harapnya.
Disinggung mengenai lulusan Papua di STKS Bandung, Rusmana menjawab, beberapa lulusan terbaik dari STKS yang ada di Papua begitu signifikan dalam mengubah pelaksanaan, tata kehidupan di Papua.
“Terlihat diantaranya banyak yang dipercaya di lingkungan sekitar menjadi pimpinan daerah. Dan juga mampu menyelenggarakan pelayanan-pelayanan kesejahteraan sosial,” tukasnya.
Diantaranya, lanjut Rusmana, ada di panti-panti pembinaan sosial, di BBPPKS Regional VI Jayapura untuk memberikan layanan-layanan baik administratif maupun layanan langsung kepada mereka yang membutuhkan layanan.
Ada juga yang kerja di IPWL. IPWL inilah yang terasa langsung manfaatnya dalam pelaksanaan kesejahteraan sosial dalam tata kehidupan di Papua ini.
“Harapan saya terus tergali potensi itu, terus dimanfaatkan dan terakses seluruh komunitas penyandang masalah sosial khususnya. Memang mereka yang punya komitmen untuk bisa meningkatkan pembangunan kesejahteraan sosial di Papua ke depan,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, informasi yang diperoleh Wone dari panitia seleksi bahwa peserta yang mendaftar secara online sebanyak 18 orang namun yang mengikuti seleksi hanya 15 orang.(yek)