BERBAGI
Yudhi/Wone Salah seorang pendaftar yang sedang melihat spanduk pengumuman seleksi STKS Bandung TA 2018/2019
Yudhi/Wone
Salah seorang pendaftar yang sedang melihat spanduk pengumuman seleksi STKS Bandung TA 2018/2019

Guna mempelajari nilai-nilai sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat

 JAYAPURA-Kultur masyarakat Papua yang mengedepankan kekerabatan dan persaudaraan dalam keseharian menuntut setiap generasi Papua wajib mengenal budaya sosial yang ada di sekitarnya.

 Oleh sebab itu, Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) berlokasi di Bandung, Jawa Barat begitu cocok untuk mempelajari hubungan sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat Papua.

 Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional VI Jayapura, Drs. Isak Sawo,M.Si mengakui bahwa struktur masyarakat dan nilai budaya menjunjung sistem kekerabatan yang begitu erat.

 “Seperti satu lokasi dimiliki bersama dalam keturunan satu marga yang mengikat. Dan tidak mengenal milik pribadi melainkan komunal atau kelompok,” kata Kepala BBPPKS, Kamis (5/7).

 Oleh karenanya, pembangunan sosial untuk masyarakat Papua dapat menggunakan teori-teori hukum sosial yang hanya diperoleh ketika bersekolah di STKS.

 “Program sosial kita hanya dapat masukkan ke suatu kampung/desa hanya melalui tokoh masyarakat setempat, kepala suku atau ondoafi,” ujarnya.

 Setelah program disampaikan kepada kepala suku atau ondoafi, kata Isak, barulah diteruskan olehnya kepada masyarakatnya. “Dan itu otomatis akan didengar masyarakatnya,” katanya.

 Dijelaskannya, Pekerja Sosial (Peksos) adalah garda terdepan dalam memberikan penyuluhan sosial kepada masyarakat baik di wilayah perkotaan, perkampungan, wilayah terjauh bahkan terluar dari batas-batas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 “Peksos ini turun untuk membangun benteng-benteng masyarakat untuk bagaimana mengenal nilai-nilai sosial yang telah turun-temurun diterapkan dalam satu kelompok masyarakat tertentu di Papua,” jelasnya.

 Isak memaparkan, Peksos yang berada di lapangan adalah ujung tombak memberikan penguatan kepada masyarakat untuk bagaimana mencintai negara ini.

 “Karena nilai-nilai yang diajarkan di dalam ilmu sosial dari STKS seperti itu. Bagaimana seorang Peksos harus dapat bermanfaat bagi banyak orang khususnya di wilayah Papua yang begitu membutuhkan tenaga Peksos,” akunya.

 Tujuan pemerintah dalam sebuah pembangunan, menurutnya, kalau tidak ditopang dengan tenaga Peksos maka tujuan itu bisa sirna.

 “Kita ingin bangsa ini jadi kuat dan tidak ada perkelahian antar suku, agama maka harus dibangun benteng sosialnya. Karena landasan hidup bermasyarakat terdapat di nilai-nilai sosial,” lanjutnya.

 Jadi, dia mengajak semua generasi muda Papua kalau ingin menjadi gerakan perubahan maka masuknya ke STKS. Di mana, akan diajarkan menjadi seorang peniliti, pekerja khusus di bidang sosial.

 “Ilmu yang diajarkan di STKS begitu cocok dengan kondisi yang ada di Papua. Pembangunan kalau ingin maju dan berkembang harus mental masyarakatnya yang dirubah melalui terobosan sosial,” pungkasnya.

 Sekadar informasi, pendaftaran masuk STKS Bandung dimulai dari tanggal 1 Mei hingga 22 Juni 2018.(yek)