BERBAGI
Ricky Ham Pagawak
Ricky Ham Pagawaki

WAMENA – Calon Bupati Mamberamo Tengah (Mamteng), Papua,  Ricky Ham Pagawak menegaskan, jangan lagi meragukan nasionalisme masyarakat Tanah Papua.

Berbicara didampingi pasangannya selaku calon Wakil Bupati, Yonas Kenelak, usai mengikuti Talkshow ketiga yang digelar Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Mamteng di Aula  Ukumearek Asso, Kota Wamena,  Jayawijaya, Selasa (12/6/2018), Ricky Ham Pagawak  bahkan menyebut orang Papua lebih Indonesia dibandingkan etnis yang lain.

Dirinya mencontohkan bukti keseharian masyarakat di Mamteng yang begitu terbuka, saling menghargai dan menerima semua suku bangsa di Tanah Air yang ada disana.

“Mereka dalam hidup sehari-hari bersahabat dengan orang lain. Membangun salah satu kabupaten atau membangun dalam kabupaten, dalam bekerja itu kita melibatkan semua suku. Itu bukti daripada orang Papua,” kata Ham sapaan akrabnya.

Ham Pagawak menuturkan, orang Pengunungan Papua, khususnya Mamberamo Tengah lebih tinggi dalam menganut Nasionalisme.

“Kalau orang yang tidak memiliki rasa Nasionalsme, pasti menolak orang lain yang mau masuk di daerahnya, lalu menolak program Pemerintah yang dari pusat maupun provinsi yang hendak masuk ke daerah mereka, pastinya akan dihalangi. Masyarakat kita tidak pernah seperti itu,” paparnya.

Dia kemukakan, selama lima tahun kepemimpinannya bersama Wakilnya Yonas Kenelak di periode sebelumnya, pasangan yang kini menjadi calon tunggal Pilkada Mamteng itu melihat masyarakat Kabupaten Mamberamo Tengah sekalipun terdiri dari lima suku besar yakni Suku Lani, Walak,Gem, Yali dan Taborta, tetapi jiwa nasionalismenya sangat baik dan mendukung pemerintah serta warga dari Nusantara.

“Selain menerima warga sesama NKRI ditempat mereka. Mereka menyediakan tempat mereka untuk dibangun fasilitas Negara, Itu bukti,” tukasnya.

Tak hanya itu, menurut Ham Pagawak, putra-putri bukan asli Mamteng, semisal dari Suku Jawa, Batak, Toraja, yang orang tuanya mengabdi  dan lahir besar di Mamteng, juga diberi kesempatan untuk menerima bantuan studi.

“Itu bukti. Mana ditempat lain seperti itu. Makanya saya tekankan bahwa kalau bilang nasionalismme teman-teman yang diluar mari datang belajar di Papua. Karena yang seperti begitu hanya ada di Papua,” pungkasnya. (Afid/Cel)