BERBAGI

Aloysius Giay : Bupatinya kurang peduli terhadap kesehatan

Jumlah HIVAIDS di Papua Meningkat Tajam
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg. Aloysius Giay, M.Kes

 

JAYAPURA – Bertolak belakang dengan tiga Daerah lainnya yang mendapatkan predikat terbaik pengelola Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), masing-masing diantaranya, Kabupaten Mappi, Merauke dan Kota Jayapura, namun sebaliknya sebanyak sembilan Kabupaten di Provinsi Papua “diganjar” Rapor Merah tetang pelayanan kesehatannya, dimana rata-rata sistem manajemen yang tak berjalan.

Adapun delapan Kabupaten yang mendapatkan Raport Merah, masing-masing Waropen, Mamberamo Raya, Intan Jaya, Deiyai, Dogiyai, Puncak, Nduga,  Yahukimo dan  Puncak Jaya.

“Kesembilan Kabupaten ini saya lihat para Bupatinya juga kurang peduli  terhadap kesehatan. Selain itu,  sistem kepemimpinan pemerintahannya kurang berjalan,” tegas   Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg. Aloysius Giay, M.Kes, ketika membuka  Rapat Koordinasi Teknis Terpadu Program Kesehatan Masyarakat dan Program  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Tingkat Provinsi Papua  Tahun 2018 di Hotel Aston, Rabu (23/5) lalu.

“Para Bupati  seharusnya proaktif. Jika Kepala Dinas kesehatan di Kabupaten tersebut tak proaktif, maka bagaimana bisa dilakukan evaluasi secara cepat,” katanya.

Disinggung apakah sudah dilaporkan kepada Bupati setempat soal penilaian rapor merah  ini, ia mengatakan,  media cetak dan elektronik sudah memblow-Up atau mengekspose kedalam bentuk berita.

Dikatakannya, saat ini selalu saja alasan klasik dari 9 Kabupaten yang berapor merah, yakni, akses transportasi,  pembiayaan dan terbatasnya SDM.

“Kadang – kadang, para tenaga medis SDM-nya menumpuk di Kota dan tak turun ke wilayah kerjanya,” tukasnya.

Dijelaskannya,  9 Kabupaten yang dihanjar rapor merah ini rata-rata rentan terhadap penyakit TB, ISPA, muntaber, panas dan demam tak henti – henti. 

“Lebih banyak penyakit lingkungan disebabkan faktor lingkungan.  Mungkin disitu cakupan imunisasinya rendah juga. Karena tak ada tenaga.  Akhirnya kekebalan tubuh anak juga turun,” pungkasnya. (mdc/pel)