BERBAGI

JAYAPURA–Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar menyebutkan, dua terduga jaringan teroris yang ditangkap di Timika berencana memanfaatkan isu Pilkada dalam aksi serangan teror bom di Papua.

Keduanya diketahui bernama Choirul alias Hasan alias Wildan dan Cecep Suparman alias Abu Taubah. Mereka ditangkap disalah satu kampung di Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, pada awal Mei lalu.

“Keduanya merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), mereka sudah dibawa ke Jakarta untuk proses pemeriksaan lebih lanjut,” kata Boy Rafli kepada wartawan di Cafe dan Resto Humbolt Jayapura, Rabu (16/5).

Dalam penggerebekan itu, Boy Rafli mengemukakan, pihaknya menemukan sejumlah bahan kimia yang dapat dipadukan menjadi bahan peledak berdaya ledak tinggi. “Ada botol cairan bayclin mengandung H2O2, kemudian Parafin serta 10 bungkus asam sitrat. Ketiganya baku bahan peledak high explosive,” terangnya.

Polda Papua usulkan Pemerintah Daerah menerapkan wajib lapor bagi penduduk baru yang masuk ke wilayah Papua. Hal ini menurut Kapolda, sebagai salah satu upaya mendeteksi ancaman terorisme.

Kapolda berencana akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Jayapura untuk menerapkan wajib lapor bagi penduduk baru di Papua dalam waktu 1 x 24 jam. Langkah ini merupakan bentuk fungsi kontrol dan pengawasan pemerintah di tingkat bawah terhadap penduduknya.

“Artinya pendatang baru ini tidak boleh sendiri-sendiri. Kalau ada penduduk kita kedatangan tamu harus melaporkannya kepada RT atau RW sebagai perangkat terdepan dari unsur pemerintah. Ini yang harus disosialisasikan terus kepada masyarakat, jangan diam-diam saja. Kita tidak tahu tamu ini punya misi baik atau tidak baik,” katanya.

Penerapan wajib lapor ini, lanjut Kapolda, sebagai salah satu upaya mendata orang asing yang berada di Papua. Hal ini penting agar orang asing yang masuk ke Papua bisa terpantau. “Ini bukan berarti menghambat-hambat kegiatannya atau apapun lainnya, namun lebih kepada mendeteksi potensi kerawanan yang dilakukan oleh orang-orang baru yang datang ke tempat kita dan sebagai antisipasi dini terhadap jaringan terorisme,” tuturnya.

Ia pun mengharapkan, masyarakat turut melakukan pengawasan terhadap setiap orang asing yang masuk ke wilayah masing-masing. “Apabila menemukan gerak-gerik yang mencurigakan, masyarakat segara melaporkan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti,” tambah Boy Rafli.(ful/yek)