BERBAGI
SYAIFUL/WONE  Suasana Bedah Buku Intelijen dan Pilkada di Cafe dan Resto Humbolt Jayapura, Rabu (16/5).
SYAIFUL/WONE
Suasana Bedah Buku Intelijen dan Pilkada di Cafe dan Resto Humbolt Jayapura, Rabu (16/5).

JAYAPURA-Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar berpendapat bahwa konsep ilmu intelijen akan membawa dampak positif oleh para pihak yang ikut dalam kontestasi Pilkada 2018 di Papua.

Ia pun menyarankan, agar para pasangan calon atau tim sukses menggunakan konsep intelijen dalam Pilkada, sehingga dapat menang secara bermartabat. Misalnya, ia mencotohkan dalam mempertimbangkan situasi, melihat peluang hingga mengatasi kendala yang ada.

“Konsep intelijen yang banyak digunakan institusi negara, bisa dikaitkan dalam pemenangan Pilkada. Nah kalau mau menang bermartabat dalam Pilkada, pakailah ilmu intelijen,” kata Boy Rafli usai bedah buku berjudul Intelijen dan Pilkada di Cafe dan Resto Humbolt Jayapura, Rabu (16/5).

Menurut mantan Kepala Divisi Humas Polri ini, bedah buku berjudul Intelijen dan Pilkada ini merupakan bagian dari proses pendidikan politik kepada para peserta Pilkada, mulai dari pasangan calon, tim sukses hingga para pendukungnya. “Ilmu intelijen bagusnya digunakan untuk kebaikan,” tuturnya.

Selama ini, sambung Kapolda, ilmu intelijen telah digunakan oleh kepolisian untuk mendeteksi kerawanan dan melakukann cipta kondisi. “Ilmu ini sudah kita gunakan sehari-hari supaya masyarakat aman, namun sekarang bagaimana menggunakan ilmu intelijen dalam mendukung proses Pilkada, secara khusus oleh para pasangan calon,” ujarnya.

Penulis buku Intelijen dan Pilkada, Stepi Anriani dalam bedah bukunya menyakini semua orang memiliki naluri intelijen, namun tidak semua orang menggunakan naluri tersebut. Misalnya, ia mencontohkan naluri seorang office boy (OB) yang membakar sampah berkas milik pimpinan perusahaan tempatnya bekerja.

“Tindakan OB itu dimaksudkan guna mencegah terbacanya jejak pimpinannya yang secara tidak sengaja tercecer dalam sampah berkas. Ini kadang tidak disadari,” kata wanita lulusan S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia ini.

Menurut Stepi, intelijen dan politik memiliki kaitan yang erat, keduanya saling mempengaruhi. Intelijen juga dapat digunakan untuk menjalankan politik negara, di sisi lain politik dapat berganti dan langgeng karena bantuan intelijen.

“Salah satu penyakit Pilkada adalah politik uang, buku ini menawarkan konsep dan pendekatan intelijen dalam menyukseskan kandidat agar praktik politik uang berkurang,” kata Stepi yang kini tengah menempuh program Doktoral Kebijakan di FIA Universitas Indonesia.

Ia pun menambahkan, pendekatan intelijen dapat digunakan dalam merekrut tim sukses, membuat strategi pemenangan, penggalangan, menghadapi lawan, personal branding kandidat, mendayagunakan leadership kandidat, serta membuat tim kontra propaganda, termasuk tim cyber.

Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI. George Elnadus Supit menyebutkan bahwa politik dan intelijen tidak bisa dipisahkan. Sebab, keduanya melahirkan kekuasaan. “Intelijen sangat luas. Politik endingnya merebut kekuasaan, caranya kalau tempo dulu melalui membunuh lawan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua KPU Papua, Adam Arisoi mengklaim, pihaknya telah bekerja maksimal. “Sosialisasi telah dibangun dengan susah payah oleh 150 anggota KPU di seluruh Papua,” kata Adam.(ful/yek)