BERBAGI
Tampak Umat Katolik Menggelar Aksi Bakar Lilin dan Doa Bersama di halaman Gereja Kristus Raja Katedral Jayapura.(Foto:Istimewa)

*) PGGP Kecam dan Imbau Umat di Papua Tidak Terpengaruh

*) Papua Bersatu Lawan Terorisme

JAYAPURA-Ratusan umat katolik Paroki Kristus Raja Katedral Jayapura menggelar doa bersama dan aksi bakar lilin di halaman Gereja Kristus Raja Katedral Jayapura, Minggu (13/5) malam.

Aksi yang diprakarsai oleh Orang Muda Katolik setempat ini sebagai wujud solidaritas dan rasa belasungkawa bagi para korban insiden bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya, pada Minggu pagi.

Aksi bakar lilin diawali doa bersama, berlangsung di halaman Gereja Kristus Raja Katedral pada pukul 19.00 WIT. Usai doa bersama, satu persatu umat katolik dan warga yang berada di sekitar lokasi membakar lilin dan menempatkannya di tempat yang tersedia.

Aksi solidarotas itu pun mendapat pengawalan dari pihak kepolisian setempat. Sekretaris Orang Muda Katolik Paroki Kristus Raja Jayapura, Daniel Gobay mengatakan,  doa bersama dan bakar lilin ini juga bagian dari aksi perdamaian, agar kedepan tidak terjadi lagi peristiwa seperti di Surabaya.

“Aksi terorisme yang menewaskan belasan orang dan puluhan luka-luka adalah perbuatan keji dan tak manusiawi.  Terorisme di Indonesia harus dihapuskan,” tandas Daniel.

Daniel berharap  pemerintah maupun kepolisian dapat memberikan jaminan keamaman bagi seluruh umat beragama  yang melaksanakan ibadah. Tak hanya itu, ia pun mendoakan agar aparat dapat segera mengungkap para pelaku kasus bunuh diri di Surabaya dan segala jaringannya.

“Polisi harus memperketat pengamanan di tempat peribadatan, tidak hanya saat moment tertentu saja tetapi mengantisipasi agar hal serupa tidak terjadi kembali,” harapnya.

Sementara itu di tempat terpisah, Persekutuan Gereja-Gereja Provinsi Papua (PGGP) mengecam aksi rentetan bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, karena apapun alasannya jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama manapun dan kemanusiaan.

“Mengenai bom bunuh diri yang menyebabkan ledakan di gereja kita di Surabaya itu, saya menyebut gereja kita, karena kita Indonesia dalam satuan NKRI. Hal itu harus kita jaga bersama sebagai warga negara. Dan kebersamaan kita di dalam kebhinekaan NKRI ini, harusnya harus kita bina bersama,” ujar Ketua umum PGGP Provinsi Papua, Pdt. M.P.A Mauri STh, ketika di konfirmasi wartawan melalui telepon genggamnya, Minggu (13/5).

Menurut Mauri, kejadian ini tindakan terorisme. Dan lebih disayangkan, gerakan terorisme itu juga terjadi di hari yang sebenarnya para umat beragama harus bersama-sama menghormati kegiatan ibadah itu.

“Kami sangat mengecam kejadian itu, yang juga bertepatan dengan hari Minggu, dimana umat Tuhan bersama-sama beribadah,”ungkap Mauri.

Atas kejadian itu, dirinya mengharapkan peran penegak hukum agar memperkuat langkah antisipasi, sehingga kejadian yang sama tidak terulang kembali dalam satuan NKRI ini.

“Atas kejadian itu, kami sangat memohon kepada semua umat Kristiani di Indonesia, khususnya di Provinsi Papua, untuk bisa menahan diri dan tidak perlu terpancing. Karena kejadian Bom bunuh diri itu, dilakukan oleh orang-orang bodoh dan orang yang tidak mengerti situasi dan kondisi akan pentingnya hidup beragama. Jadi, kepada semua umat Kristiani pada umumnya, tidak usah ada pikiran-pikiran lain, selain kita menyerahkan diri dan menyerahkan gereja kita itu kepada Tuhan, maka kenyakinan dan kepercayaan kita juga akan semakin kokoh,” himbaunya kepada para umat Kristiani di Papua pada khususnya.

Dirinya juga mengajak kepada semua umat Kristiani di Papua, untuk terus bersama-sama membangun persatuan dan kesatuan sebagai umat Tuhan yang percaya.

“Saya juga perlu menyampaikan kepada semua saudara-saudara kami yang seiman yang ada di Surabaya, Jawa Timur, untuk jangan berputus asa, karena kami dari Papua tetap berdoa dan akan tetap bersama dalam keprihatinan dan beban yang dialami ini. Kami turut prihatin dan turut berduka cita kepada semua korban,” jelas Mauri.

Dalam waktu dekat para umat Muslim di Indonesia, khususnya di Papua secara serentak juga akan bersama-sama menjalankan ibadah puasa. Dirinya juga menghimbau kepada para umat, khususnya para umat Kristiani untuk tetap netral, dan bersama-sama menjaga bulan puasa itu agar berjalan dengan baik, aman dan tentram.

“Saya mengajak kita semua, agar tidak terpengaruh dan tidak boleh terpengaruh dengan kejadian yang ada di Surabaya itu. Jangan terpengaruh dengan daerah lain, apalagi terpengaruh dari Luar Negeri, karena kita tidak ada urusan dengan hal itu. Kita harus tetap bersama-sama menjaga Tanah Papua kita ini, supaya saudara-saudara kita umat muslim juga dalam menjalankan ibadah puasanya hingga bulan Ramadhan ini, dapat berjalan dengan baik dan mereka juga merasa nyaman, aman dan tentram menjalankan ibadahnya,” pesannya.

Tragedi peledakan bom di saat umat Kristiani tengah menjalankan ibadah disejumlah Gereja di Kota  Surabaya (Jatim) pada Minggu (13/5) Pukul 07.30 WIB, mengakibatkan 9 korban tewas dan 40 korban luka-luka, menyisahkan duka cita mendalam. Masing-masing  Gereja Katolik Santa Maria Tak Tercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya, Gereja Kristen Indonesia (GKI)  di Jalan Diponegoro, Surabaya dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno, Surabaya.

Wakil Walikota  Jayapura, H. Ir. Rustan Saru, MM mengatakan,  pihaknya  mengutuk keras terorisme yang telah melakukan pengeboman  terhadap 3 Gereja di Surabaya.

Untuk itu, jelasnya, pihaknya berharap agar Kepolisian dapat segera menangkap  para pelaku terorisme. “Kita harus bersatu  melawan terorisme. Kepolisian/TNI, masyarakat  dan semua tokoh agama harus bersatu melawan terorisme dan kita harus berantas sampai akarnya,” pungkasnya.

Tokoh Agama Papua Socrates Yoman menuturkan, perilaku teroris yang menyebabkan 9 orang meninggal dunia  dan ratusan luka-luka  merupakan perilaku biadab dan kejahatan kemanusiaan.

“Kita kutuk semua pelaku kejahatan kemanusiaan itu  manusia-manusia terkutuk. Perbuatan mereka melukai hati kita semua.  Kita  berdoa supaya  semua keluarga  yang dirugikan mendapat penghiburan dan kekuatan dari Tuhan Yesus,”ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW Pemuda LIRA Provinsi Papua Steve R.E. Mara mengutarakan, pihaknya menyampaikan turut berduka cita  atas meninggalnya korban dan pelaku tragedi  bom Gereja di Kota Surabaya. Kejadian ini merupakan aksi radikalisme   yang berkembang di Tanah Air. Ini bukanlah aksi yang mengatasnamakan agama tertentu. Teroris adalah musuh kita bersama.(ful/sun/mdc/cw-02/jog)

***PGGP Kecam dan Imbau Umat di Papua Tidak Terpengaruh

***Papua Bersatu Lawan Terorisme

JAYAPURA-Ratusan umat katolik Paroki Kristus Raja Katedral Jayapura menggelar doa bersama dan aksi bakar lilin di halaman Gereja Kristus Raja Katedral Jayapura, Minggu (13/5) malam.

Aksi yang diprakarsai oleh Orang Muda Katolik setempat ini sebagai wujud solidaritas dan rasa belasungkawa bagi para korban insiden bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya, pada Minggu pagi.

Aksi bakar lilin diawali doa bersama, berlangsung di halaman Gereja Kristus Raja Katedral pada pukul 19.00 WIT. Usai doa bersama, satu persatu umat katolik dan warga yang berada di sekitar lokasi membakar lilin dan menempatkannya di tempat yang tersedia.

Aksi solidarotas itu pun mendapat pengawalan dari pihak kepolisian setempat. Sekretaris Orang Muda Katolik Paroki Kristus Raja Jayapura, Daniel Gobay mengatakan,  doa bersama dan bakar lilin ini juga bagian dari aksi perdamaian, agar kedepan tidak terjadi lagi peristiwa seperti di Surabaya.

“Aksi terorisme yang menewaskan belasan orang dan puluhan luka-luka adalah perbuatan keji dan tak manusiawi.  Terorisme di Indonesia harus dihapuskan,” tandas Daniel.

Daniel berharap  pemerintah maupun kepolisian dapat memberikan jaminan keamaman bagi seluruh umat beragama  yang melaksanakan ibadah. Tak hanya itu, ia pun mendoakan agar aparat dapat segera mengungkap para pelaku kasus bunuh diri di Surabaya dan segala jaringannya.

“Polisi harus memperketat pengamanan di tempat peribadatan, tidak hanya saat moment tertentu saja tetapi mengantisipasi agar hal serupa tidak terjadi kembali,” harapnya.

Sementara itu di tempat terpisah, Persekutuan Gereja-Gereja Provinsi Papua (PGGP) mengecam aksi rentetan bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, karena apapun alasannya jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama manapun dan kemanusiaan.

“Mengenai bom bunuh diri yang menyebabkan ledakan di gereja kita di Surabaya itu, saya menyebut gereja kita, karena kita Indonesia dalam satuan NKRI. Hal itu harus kita jaga bersama sebagai warga negara. Dan kebersamaan kita di dalam kebhinekaan NKRI ini, harusnya harus kita bina bersama,” ujar Ketua umum PGGP Provinsi Papua, Pdt. M.P.A Mauri STh, ketika di konfirmasi wartawan melalui telepon genggamnya, Minggu (13/5).

Menurut Mauri, kejadian ini tindakan terorisme. Dan lebih disayangkan, gerakan terorisme itu juga terjadi di hari yang sebenarnya para umat beragama harus bersama-sama menghormati kegiatan ibadah itu.

“Kami sangat mengecam kejadian itu, yang juga bertepatan dengan hari Minggu, dimana umat Tuhan bersama-sama beribadah,”ungkap Mauri.

Atas kejadian itu, dirinya mengharapkan peran penegak hukum agar memperkuat langkah antisipasi, sehingga kejadian yang sama tidak terulang kembali dalam satuan NKRI ini.

“Atas kejadian itu, kami sangat memohon kepada semua umat Kristiani di Indonesia, khususnya di Provinsi Papua, untuk bisa menahan diri dan tidak perlu terpancing. Karena kejadian Bom bunuh diri itu, dilakukan oleh orang-orang bodoh dan orang yang tidak mengerti situasi dan kondisi akan pentingnya hidup beragama. Jadi, kepada semua umat Kristiani pada umumnya, tidak usah ada pikiran-pikiran lain, selain kita menyerahkan diri dan menyerahkan gereja kita itu kepada Tuhan, maka kenyakinan dan kepercayaan kita juga akan semakin kokoh,” himbaunya kepada para umat Kristiani di Papua pada khususnya.

Dirinya juga mengajak kepada semua umat Kristiani di Papua, untuk terus bersama-sama membangun persatuan dan kesatuan sebagai umat Tuhan yang percaya.

“Saya juga perlu menyampaikan kepada semua saudara-saudara kami yang seiman yang ada di Surabaya, Jawa Timur, untuk jangan berputus asa, karena kami dari Papua tetap berdoa dan akan tetap bersama dalam keprihatinan dan beban yang dialami ini. Kami turut prihatin dan turut berduka cita kepada semua korban,” jelas Mauri.

Dalam waktu dekat para umat Muslim di Indonesia, khususnya di Papua secara serentak juga akan bersama-sama menjalankan ibadah puasa. Dirinya juga menghimbau kepada para umat, khususnya para umat Kristiani untuk tetap netral, dan bersama-sama menjaga bulan puasa itu agar berjalan dengan baik, aman dan tentram.

“Saya mengajak kita semua, agar tidak terpengaruh dan tidak boleh terpengaruh dengan kejadian yang ada di Surabaya itu. Jangan terpengaruh dengan daerah lain, apalagi terpengaruh dari Luar Negeri, karena kita tidak ada urusan dengan hal itu. Kita harus tetap bersama-sama menjaga Tanah Papua kita ini, supaya saudara-saudara kita umat muslim juga dalam menjalankan ibadah puasanya hingga bulan Ramadhan ini, dapat berjalan dengan baik dan mereka juga merasa nyaman, aman dan tentram menjalankan ibadahnya,” pesannya.

Tragedi peledakan bom di saat umat Kristiani tengah menjalankan ibadah disejumlah Gereja di Kota  Surabaya (Jatim) pada Minggu (13/5) Pukul 07.30 WIB, mengakibatkan 9 korban tewas dan 40 korban luka-luka, menyisahkan duka cita mendalam. Masing-masing  Gereja Katolik Santa Maria Tak Tercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya, Gereja Kristen Indonesia (GKI)  di Jalan Diponegoro, Surabaya dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno, Surabaya.

Wakil Walikota  Jayapura, H. Ir. Rustan Saru, MM mengatakan,  pihaknya  mengutuk keras terorisme yang telah melakukan pengeboman  terhadap 3 Gereja di Surabaya.

Untuk itu, jelasnya, pihaknya berharap agar Kepolisian dapat segera menangkap  para pelaku terorisme. “Kita harus bersatu  melawan terorisme. Kepolisian/TNI, masyarakat  dan semua tokoh agama harus bersatu melawan terorisme dan kita harus berantas sampai akarnya,” pungkasnya.

Tokoh Agama Papua Socrates Yoman menuturkan, perilaku teroris yang menyebabkan 9 orang meninggal dunia  dan ratusan luka-luka  merupakan perilaku biadab dan kejahatan kemanusiaan.

“Kita kutuk semua pelaku kejahatan kemanusiaan itu  manusia-manusia terkutuk. Perbuatan mereka melukai hati kita semua.  Kita  berdoa supaya  semua keluarga  yang dirugikan mendapat penghiburan dan kekuatan dari Tuhan Yesus,”ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW Pemuda LIRA Provinsi Papua Steve R.E. Mara mengutarakan, pihaknya menyampaikan turut berduka cita  atas meninggalnya korban dan pelaku tragedi  bom Gereja di Kota Surabaya. Kejadian ini merupakan aksi radikalisme   yang berkembang di Tanah Air. Ini bukanlah aksi yang mengatasnamakan agama tertentu. Teroris adalah musuh kita bersama.(ful/sun/mdc/cw-02/jog)