BERBAGI
Kepala Bidang Statistik Sosial, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Bagas Susilo. (Foto:Sunario/Wone)

JAYAPURA – Pada Triwulan I-2018, Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Papua sebesar 97,82 yang berarti kondisi ekonomi konsumen mengalami penurunan dengan optimisme yang juga menurun dibandingkan kondisinya di triwulan sebelumnya. Menurunnya kondisi ekonomi konsumen utamanya disebabkan oleh menurunnya pendapatan rumah tangga kini (nilai indeks 94,83). Namun, tingkat konsumsi barang/jasa justru meningkat (nilai indeks 106,37). Sebaliknya, pengaruh indeks inflasi terhadap tingkat konsumsi menurun (nilai indeks 97,19).

Nilai ITK Papua pada Triwulan II-2018 diperkirakan sebesar 121,74. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan mendatang diperkirakan mengalami peningkatan sehingga optimisme konsumen ikut mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan pendapatan rumah tangga (nilai indeks 127,52) serta diikuti dengan peningkatan perkiraan pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan oleh konsumen (nilai indeks 111,74).

Kepala Bidang Statistik Sosial, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Bagas Susilo mengungkapkan, perkiraan ITK Papua pada Triwulan II-2018 diperkirakan sebesar 121,74 yang berarti kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan meningkat dibandingkan kondisinya di triwulan I-2018 dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi. Peningkatan tersebut dipicu oleh adanya peningkatan perkiraan Pendapatan Rumah Tangga Mendatang (nilai indeks 127,52).

“Sedangkan untuk rencana pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan di perkirakan juga akan meningkat (nilai indeks 111,62). Peningkatan ini dipicu adanya Hari Raya Idul Fitri Tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang,” ujar Bagas kepada para awak media, di Aula kantor BPS, Senin (7/5).

Sedangkan di triwulan II-2018, ITK secara Nasional diperkirakan sebesar 116,38. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen di triwulan II-2018 diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi dibanding pada triwulan I-2018. Meningkatnya kondisi ekonomi konsumen di tingkat nasional disebabkan meningkatnya perkiraan kondisi ekonomi konsumen pada sebagian besar provinsi di Indonesia, meskipun ada beberapa provinsi yang perkiraan ITK triwulan II-2018 menurun.

“Perkiraan ITK tertinggi terjadi di Provinsi DI Yogyakarta yang mencapai 116,20, sementara perkiraan ITK terendah terjadi di Provinsi NTT sebesar 85,69,” pungkasnya. (sun/man)