BERBAGI
Yudhi/Wone Fasilitator LPMP Papua, Ati Suciati saat Memberikan Penjelasan dalam Pelatihan Pengembangan dan Penyampaian Pendidikan Inklusi, Jumat (6/4).
Yudhi/Wone
Fasilitator LPMP Papua, Ati Suciati saat Memberikan Penjelasan dalam Pelatihan Pengembangan dan Penyampaian Pendidikan Inklusi, Jumat (6/4).

JAYAPURA-Selama tiga hari pelatih, mentor, pengawas sekolah di Kabupaten Jayapura mendapat pelatihan mengenai Pengembangan dan Penyampaian Pendidikan Inklusi.
Kegiatan ini disponsori oleh Unicef sebagaimana regulasi yang tertuang di dalam Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusi dan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas yang saat ini difokuskan di daerah pedalaman dan terpencil di Indonesia khususnya di Papua.
Fasilitator dari LPMP Papua, Ati Suciati mengatakan, kegiatan pendidikan Inklusi lebih kepada sistem pendidikan yang tidak ada pengabaian kepada seluruh anak di Indonesia.
“Tanpa ada diskriminasi, pendidikan untuk semua anak,” tegasnya saat ditemui Wone, Jumat (6/4).
Widyaiswara LPMP Papua itu mencontohkan, anak-anak berkebutuhan khusus masih banyak di kampung-kampung yang tidak mendapat pendidikan dengan baik.
“Anak-anak inikan tidak sekolah, bagaimana agar mereka dapat sekolah, ya harus diterima di sekolah biasa yang ada di kampung supaya mereka dapat belajar bersama-sama,” urainya.
Ati menegaskan, pendidikan Inklusi tidak hanya untuk anak-anak disabilitas. Tetapi untuk anak pecandu narkoba, penyakit kronis, suku terasing, semua difasilitasi dalam pendidikan Inklusi untuk bersekolah,” terangnya.
Ati memaparkan, Kabupaten Jayapura dan Jayawijaya masih ada anak yang tidak bersekolah. Untuk itulah, Unicef sebagai salah satu Lembaga Donor untuk memberikan penguatan terhadap pendidikan Inklusi.
“Kami hanya inginkan, peserta yang hadir dapat memikirkan bagaimana nasib anak-anak yang belum bersekolah supaya dapat menimba ilmu seperti anak-anak lain pada umumnya,” harap wanita berkerudung itu.
Anak yang mengalami tuli sejak lahir, Ati mengilustrasikan, dinamakan disabilitas. Akan tetapi, kalau anak tersebut sudah menggunakan alat bantu maka, bukan lagi sebagai anak berkebutuhan khusus tetapi sudah menjadi anak normal.
“Begitu pula dengan kondisi anak-anak disabilitas lainnya. Ketika sudah mendapat bantuan alat maka, anak itu sudah normal dan dapat bersekolah di sekolah umum,” jelasnya.
Menurutnya, ini hanya cara pandang dan wawasan dari seorang guru untuk bagaimana berperan aktif serta peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia khususnya di Papua.
“Jadi anak harus diajarkan berdasarkan kemampuan yang dimiliki dengan melihat kondisi yang ada. Guru harus pandai-pandai melihat kondisi itu,” imbaunya.
Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk di satu sekolah yang ada siswa yang memiliki keterbatasan akan didampingi guru khusus.
“Guru pembimbing khusus didatangkan dari Sekolah Luar Biasa. Kalau seandainya pendidikan Inklusi ini sudah berjalan, sudah betul-betul diterapkan Sekolah Luar Biasa jadi Resort Center,” tuturnya.
Pendidikan Inklusi, kata Ati, di beberapa daerah di Indonesia sudah mulai menerapkannya. Di Jayapura pun sudah ada tetapi keberhasilannya belum terlalu signifikan.
“Anak-anak harus terlayani dengan baik dengan potensi masing-masing dan saya pikir dunia pendidikan akan baik. Semua berjalan sesuai dengan apa yang dimiliki,” harapnya.(yek)