BERBAGI

JAYAPURA – PT Pertamina (Persero) MOR VIII telah melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite menyesuaikan dengan tren harga minyak mentah dunia yang ada saat ini. Harga BBM jenis Pertalite saat ini telah naik sebesar Rp 200 perliter dan berlaku di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Maluku dan Papua.

Unit Manager Communication & CSR PT Pertamina (persero) Marketing Operation Region VIII Eko Kristiawan mengatakan penyesuaian harga BBM jenis Pertalite tersebut merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus naik. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga ikut melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Kedua faktor penentu kenaikan harga BBM ini mengharuskan adanya perubahan harga. Saat ini harga minyak mentah sudah hampir menyentuh angka US$ 65 per barel, ditambah nilai rupiah juga menunjukkan kecenderungan melemah,” ujar Eko, ketika wartawan konfirmasi melalui telepon genggamnya, Senin (26/3).

Menurut Eko, Pertamina sudah berupaya untuk bertahan dengan harga saat ini agar tidak membebani masyarakat. Namun, harga bahan baku yang meningkat tajam, mengharuskan pihaknya juga mengikuti harga BBM naik di konsumen akhir.

“Hal ini merupakan pilihan berat, akan tetapi kami tetap mempertimbangkan konsumen, dengan memberikan BBM berkualitas terbaik dengan harga terbaik di kelasnya,” ungkap Eko.

Eko menambahkan, kenaikan harga BBM Research Octane Number (RON) 90 tersebut, secara periodik dilakukan Pertamina sebagai badan usaha. Pihaknya juga mengapresiasi konsumen yang tetap memilih Pertalite sebagai bahan bakar bagi kendaraannya.

Seperti dilansir dari laman resmi Pertamina, harga jual Pertalite per 24 Maret 2018 lalu, di DKI Jakarta menjadi sebesar Rp 7.800/ liter. Sementara di provinsi lainnya berkisar Rp 7.800 sampai Rp 8.150/ liter. Seperti di Provinsi Riau, Pertalite dibanderol menjadi Rp 8.150/liter, sedangkan harga Pertalite di Provinsi Maluku dan Papua masing-masing menjadi Rp 8.000/ liter. (sun/man)