BERBAGI
Seorang turis sedang menikmati indahnya laut Raja Ampat.

JAYAPURA – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Agen Perjalanan Wisata (Asita) Provinsi Papua, Iwanta Paranginangin mengungkapkan hingga kini asosiasi yang dipimpinannya itu tidak  menunjukkan perkembangan yang terlalu signifikan, hal itu disebabkan karena para pelaku usaha travel yang ada di Provinsi Papua masih cenderung sebagai pengusaha ticketing yang artinya belum mengarah atau menjual akan paket-paket wisata.

“Jika para pengusaha travel ini bisa menjual paket wisata yang sifatnya konsorsium, kami juga dari Asita pasti akan melakukan pendampingan dan membuka diri untuk sharing bersama akan beberapa tujuan destinasi wisata yang ada, baik yang ada di luar maupun yang ada di dalam Papua ini untuk bersama-sama mendapatkan fee dari paket tersebut,” ujar Iwanta kepada Wone, Jumat (23/3).

Menurutnya, bila para pengusaha travel tersebut bisa menyatukan persepsi dan bergabung bersama Asita, maka segala persoalan yang ada di dalam bisnis transportasi khususnya di dunia penerbangan juga akan semakin lancar.

“Sebelumnya maskapai penerbangan Sriwijaya Air sempat menurunkan komisi para agen dari 5 persen menjadi 2 persen. Akan tetapi karena adanya dorongan dari kami selaku asosiasi, hal itupun tidak jadi dilakukan. Maskapai itu harus mengakui bahwa, hampir 70 persen tiket pesawat itu dijual oleh travel, jadi bila komisi itu juga diturunkan, maka kami yakin pihak maskapai juga pasti akan ikut merugi,” ungkapnya.

Lanjut Iwanta, bila para pihak maskapai juga memberikan komisi sebesar 5 persen kepada para pengusaha travel, saat ini hal itu juga masih dirasa agak berat, karena para agen tersebut juga harus bersaing dengan travel online yang berani menjual di bawah harga yang ada Net To Agen (NTA).

“Jadi dengan adanya penurunan komisi dari pihak maskapai dan juga susahnya saat ini bersaing dengan para travel online yang harganya bisa dijual jauh di bawah harga rata-rata mengakibatkan para pengusaha agen perjalanan ini juga kena dua pilihan. Di samping dari sisi online susah bersaing, dari sisi income juga ikut menurun,” keluhnya.

Terkait dengan harga yan di bawah NTA yang dibuat oleh travel online, membuat pihaknya melalui asosiasi Asita merasa perlu dan dengan terpaksa harus menyurat kepada Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) agar travel online itu bisa mengikuti  harga yang telah ditetapkan bersama di dalam NTA tersebut.

“Memang KPPU sudah menegur travel online itu, dan mereka sudah mau mengikuti harga yang ada, akan tetapi akhir-akhir ini muncul lagi travel online lain yang berani menjual di bawah harga NTA. Dengan kejadian ini, kami dari asosiasi merasa perlu untuk selalu mendorong para pengusaha travel ini untuk bisa mengambil bagian di asosiasi untuk bersama-sama menjual paket wisata,” pungkasnsya. (sun/man)