BERBAGI
Abrasi yang terjadi di bantaran Kali Uwe, Distrik Wouma, Kamis (22/3). Warga dua kampung mengungsi karena takut terkena dampak abrasi.(Foto:Imanuel Itlay/Wone)

WAMENA – Abrasi yang terjadi di bantaran kali Uwe tepatnya di Kampung Wesakin, Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya membuat warga yang berada dibibir kali mulai mengungsikan diri.

Dari informasi yang di himpun koran Wone, pengikisan ini terjadi pada tahun 2016. Pertama kali terjadi, hanya beberapa meter dan jalan yang menghubungkan Distrik Wouma dan Distrik Welesi, namun saat ini kebun warga dan bahkan hanya sekitar 3-5 meter lagi mencapai rumah.

Hal ini membuat warga mulai resah dan mengungsikan diri. Mereka berharap kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya maupun Pemerintah Provinisi Papua serta Balai Sungai untuk melihat hal ini.

Sebab bila dibiarkan maka rumah milik puluhan kepala keluarga yang berada dibantaran itu akan menjadi korban. Sejauh ini, kerugian akibat abrasi ini adalah jalan terputus, pagar, kebun milik warga, bahkan awal tahun ini, dua warga tewas setelah terjatuh saat melewati tempat terjadinya abrasi.

Yustinus Wuka, salah satu warga yang ditemui wartawan mengaku, warga yang tempat tinggalnya tak jauh dari terjadinya abrasi ini tak pernah tenang, bahkan saat banjir mereka tak tidur karena takut terjadi longsor dan rumah mereka ikut hanyut.

“Ada banyak rumah di sini dan jarak antara pemukiman dan longsor hanya 3-5 meter. Jadi mereka (warga) tak pernah tidur baik, dan terus waspada,” ungkapnya.

Kepala Suku Wouma, Jhon Asso mengungkapkan, warga dua kampung telah mengungsi akibat longsor tersebut. Bahkan, ada dua orang warga meninggal dunia.“Dua kampung mengungsi, dua orang lagi jatuh dan langsung meninggal,” ujarnya.

Menurutnya, jalan yang terputus ini merupakan fasilitas yang harus diperhatikan oleh pemerintah karena merupakan jalan yang menghubungkan tempat Pembangkit Listrik Negera (PLN) di Welesi.

“Ini jalan utama, ada PLN di atas dan itukan lewat sini karena jalan putus sehingga aktivitas tak jalan,” ujarnya.

Dia menyebut beberapa pihak sempat datang membantu menormalisasi jalur air, namun sia-sia karena ketika banjir datang air kembali ke jalur sebelumnya. “Kami berharap normalisasi pakai talud, atau bronjong. Tapi kalau kasih lurus hanya menimbun batu, besok akan kembali lagi,” tutur Asso.

Oleh karena itu, pihaknya telah melayangkan surat ke balai dan memasukkan surat ke Bupati Jayawijaya hanya saja hingga saat ini belum ada jawaban untuk menormalisasi kali Uwe, terutama di Kampung Wesakin.

Dari pantauan, memang abrasi yang terjadi cukup parah. Panjang daratan yang terkena longsor sekitar 700-800 meter, sedangkan lebar (bila diukur dari bibir sungai sebelumnya) sekitar 50 meter. Untuk dalamnya, 5-10 meter.(lay/jog)